“Ndit, mau ikut pelatihan hidroponik di Cibubur? Pergi sama mbakmu. Aku traktir.” Demikian ucapan kakak iparku, Mas Aar, suatu pagi. Saat itu aku sudah mulai asyik menikmati hari-hariku berkebun secara organik, bercengkrama hangat dengan polybag, media tanam dan tentu saja pupuk-pupuk hasil komposting sampah rumah tangga.
Tentu saja aku mau. Mempelajari hal baru yang sedang diminati sungguh memberi semangat tersendiri.
Maka pergilah aku dan kakakku, Mbak Lala, ke Pelatihan Hidroponik yang dimentori oleh Pak Ronny Tanumihardja dan Ibu Bertha Suranto.
Di sana, seperti ada lampu-lampu yang menyala di dalam kepala. TING! TING! TING! TING! Wow, ini betul-betul metode yang sangat menarik. Mengapa menarik? Karena bisa memberi pilihan solusi untuk teman-teman yang ingin berkebun namun masih mempertimbangkan beberapa alasan: tidak suka kotor, takut cacing, super sibuk sehingga tidak sempat menyiram, dan berbagai alasan organik lainnya.
Investasi di awal berhidroponik memang terlihat lebih seru (bagi yang membuat instalasi sendiri) atau tidak murah (bagi yang ingin memesan instalasi), namun itu hanya sekali di awal, dan selanjutnya menjadi lebih mudah karena tidak perlu menyiram setiap hari. Cukup mengecek jumlah air dan nutrisi sesuai usia tanaman setiap harinya, sudah, bisa ditinggal dan dinikmati hasilnya 3-4 minggu kemudian untuk jenis tanaman sayuran.
Jadi, mau pilih berkebun ala apa? Hidroponik atau organik? ;)
Cipinang, 16 Juli 2020
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
#hidroponik
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline



0 comments:
Post a Comment