Tuesday, January 12, 2021
Tuesday, September 29, 2020
Kata dari mentor digital marketing virtual saya, coach Denny Santoso, mengiang saat menemani lari pagi ini.
Iya, 'done is better than perfect'. Ingin 'perfect' ini yang membuat saya tak kunjung menulis catatan harian urban farming wisdoms lagi.
Ingin 'perfect' diposting ke beberapa sosmed.
Ingin 'perfect' punya gambar bagus yang mewakili atau melengkapi tulisan.
Ingin 'perfect' supaya bisa menginspirasi lebih banyak orang.
Karena kebanyakan ingin, akhirnya malah tak tak tereksekusi.
Padahal jatah usia tidak ada yang tahu. Bisa jadi tulisan ini adalah tulisan terakhir saya 🙏
Akan ada saatnya menyempurnakan tulisan-tulisan ini. Bisa jadi saya yang mengerjakan, bisa jadi bukan saya yang mengerjakan.
Saya merasa bahwa tugas kita adalah belajar, menjalani dan berbagi, apa pun bidang karya yang sedang kita tekuni. Semoga ke depannya bisa lebih konsisten 🙏🌱
Cipinang Muara, 29 September 2020
#selfreminder
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Tuesday, August 18, 2020
![]() |
| Panen sawi bersama Yanthi 4 tahun yang lalu |
Selalu ada yang pertama untuk segalanya. Demikian pula dalam hal ber-urban farming.
Semua dimulai dari langkah pertama, dan langkah pertama itu berasal dari sebuah pesan via Whatsapp yang sampai, yang menyatakan ingin aku membuatkan instalasi hidroponik di rumah beliau.
Pada saat itu, aku masih mengujicoba membuat instalasi hidroponik dengan menggunakan material-material yang tersedia di dekat rumah. Menganggap pipa PVC adalah material yang paling mudah ditemui, maka aku menggunakannya sebagai kerangka instalasi.
Mudah? Tentu. Murah? Tidak juga. Investasi terbesar dari pembuatan kerangka PVC ada pada sambungan-sambungan antara pipa, baik yang berbentuk L maupun T. Apalagi saat itu saya menggunakan pipa 1¼“ sehingga lumayan juga investasi untuk setiap sambungannya.
Hasil ujicoba itu cukup berhasil. Sawi-sawi samhong bertumbuhan dan hasilnya pun dapat dinikmati.
Namun konstruksi yang saya buat saat itu belum bisa menjadi rekomendasi karena masih tidak stabil bila tertiup angin kencang. Setidaknya saya sudah mencoba.
Dan sepertinya memang demikianlah sistem kepantasan itu bekerja. Saat kita mau memulai, maka terbukalah peluang-peluang selanjutnya, sebagaimana pesan Whatsapp yang masuk ke telepon seluler saya hari itu, 3 tahun yang lalu.
Cipinang Muara, 4 Agustus 2020
#selfreminder
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Monday, August 3, 2020
Maka nutrisi AB mix yang diserap oleh tanaman dalam metode tanam hidroponik niscaya aman untuk dikonsumsi.
Pertanyaan selanjutnya biasanya: apakah nutrisi AB mix adalah zat kimia?
Sebelum hal itu dijawab, yuk kita sepakati dulu pemahaman mengenai unsur kimia yang menjadi pembentuk wujud alam semesta ini.
Sebagaimana air yang kita minum, apakah itu unsur kimia? Ya, dua atom hidrogen bersenyawa dengan 1 atom oksigen (H2O) menjadikannya air. Kebanyakan satu unsur oksigen saja sudah membuatnya tidak lagi menjadi air, namun zat yang disebut peroksida (H2O2), yang tidak dapat diminum, bahkan punya efek tajam dan memutihkan bila terkena suatu benda, apalagi kulit.
Garam dapur yang kita konsumsi setiap harinya terdiri dari unsur kimia natrium dan klorida (NaCl), yang tanpa garam maka makanan pun menjadi hambar dan tidak nyaman dinikmati.
Jadi, apakah unsur kimia itu aman? Bukan hanya aman, kimia adalah bagian dari keseharian kita. Namun tentu tidak semua unsur kimia aman untuk kita konsumsi secara langsung.
Sebagaimana nutrisi AB mix yang terdiri dari belasan unsur makro dan mikro, tentu telah diracik sedemikian rupa sehingga menjadi nutrisi yang membuat tanaman dapat bertumbuh dengan baik. Karena bila unsur-unsur di dalamnya tidak seimbang, tanaman tidak akan bertumbuh sebagaimana yang diharapkan.
Maka nutrisi AB mix adalah AMAN untuk menjadi penyedia kebutuhan nutrisi bagi tanaman.
Apa yang membuat tanamannya menjadi tidak aman untuk dikonsumsi? Yaitu saat kita menyemprotkan pestisida berbahan dasar minyak pada daun dan buah yang ditanam, dengan tujuan untuk mendapatkan hasil tanaman yang sebaik mungkin bentuk dan tampilannya.
Unsur minyak sebagaimana solar, bensin dan minyak tanah yang kerap dijadikan bahan dasar untuk pestisida inilah yang merupakan unsur kimia logam berat yang tidak mudah diurai oleh tubuh bila sampai tertelan. Karena pada dasarnya, minyak dan air tidak akan bisa tercampur kecuali air berada pada tingkat kebasaan yang tinggi.
Oleh karena itu, karena nutrisi AB mix aman untuk tanaman kita, yuk kita fungsikan lahan terbatas untuk bertanam sayuran hidroponik ;)
Cipinang Muara, 3 Agustus 2020
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Sunday, August 2, 2020
![]() |
| Serunya berkebun organik di tanah kosong milik tetangga 4 tahun yang lalu :) |
Melanjutkan pertanyaan dalam tulisan sebelumnya, jadi, berada di sisi organik manakah diri kita saat ini? Silakan direnungi.
Dan sesungguhnya, sisi organik mana pun yang teman-teman ingin jalankan, maka jalankanlah.
Karena pada hakikatnya, tanaman adalah organisme yang tidak kenal bunuh diri.
Karena dengan bertanam metode apa pun, tanaman tetap akan melakukan fotosintesis, merubah karbondioksida menjadi oksigen yang dibutuhkan oleh manusia.
Karena apa pun metodenya, bila dianggap layak dan pantas, maka tanaman tersebut akan bertumbuh, berbunga bahkan berbuah. Yang dari setiap buahnya akan tersedia puluhan bahkan ratusan benih yang bisa menjadi puluhan bahkan ratusan tanaman yang sama.
Yang pada setiap daun dan buahnya akan memberikan nutrisi yang baik bagi manusia, memberikan kita energi untuk berkarya dan menentukan pilihan: hal baik apa yang akan saya lakukan saat ini.
Karena tanpa terpenuhi kebutuhan nutrisi kita, tentu tidak mudah untuk bisa berpikir secara jernih dan dapat memilih jalan karya yang tidak hanya bermanfaat untuk diri kita sendiri, namun juga untuk banyak orang.
Jadi, di mana pun sisi organik Anda, yuk dijalankan. Karena semakin banyak yang mengeksekusi, niscaya akan semakin memberikan banyak kebaikan bagi lingkungan kita.
Cipinang Muara, 2 Agustus 2020
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Saturday, August 1, 2020
Karena setiap dari diri kita niscaya memiliki situasi dan kondisi yang berbeda dalam menjalankan urban farming di tempat kita masing-masing. Ada yang memiliki lahan yang cukup luas untuk ditanami dengan cara organik, namun tetap memilih berhidroponik karena menganggap lebih praktis dan hemat waktu. Ada yang memiliki lahan terbatas, namun tetap memilih dengan cara organik karena menikmati mengolah media tanam dan menyiram setiap hari.
Setiap orang memiliki situasi dan alasannya masing-masing dalam ber-urban farming.
Dan setiap orang juga memiliki pandangannya sendiri dalam hal organik dan non-organik.
Ada yang beranggapan bahwa yang disebut dengan organik adalah dengan menggunakan media tanah di lahan yang luas, yang diperlakukan tanpa pupuk kimia sama sekali. Bahkan ada yang beranggapan bahwa dalam organik tanahnya perlu didiamkan dalam jangka waktu tertentu lalu baru ditanami.
Dan itu tidak apa, dan silakan dijalankan.
Saya pribadi termasuk merasa nyaman dalam menjalani kegiatan berkebun menggunakan aliran organik yang kedua, yaitu tidak mempermasalahkan di mana tanaman itu bertumbuh. Karena selama tanaman itu bertumbuh, maka artinya lingkungannya memungkinkan untuk bertumbuh.
Yang menjadi pembeda adalah dalam memperlakukan tanaman saat bertumbuhnya, apakah menggunakan pestisida berbahan dasar minyak atau air dalam rangka menjauhkan hama demi mendapatkan hasil yang maksimal.
Bahan dasar minyak seperti bensin, solar atau minyak tanah yang digunakan sebagai campuran pestisida tentu ditujukan agar tidak mudah larut bila terkena air, sehingga hama tidak mau datang selama tanaman bertumbuh. Dan tentu lebih menghemat tenaga karena tidak perlu berulang-ulang menyemprotkan pestisida.
Dan kabar serunya adalah pada akhirnya manusialah yang akhirnya ikut mengonsumsi minyak-minyak pestisida yang tertempel pada tanaman tersebut karena tidak mudah larut dalam air.
Untuk satu kali makan mungkin masih tidak apa karena tidak terasa. Namun saat pola yang sama terjadi selama puluhan tahun, dan pada saat yang sama tidak diikuti dengan pola hidup sehat seperti olahraga teratur, tidur cukup serta minum air putih yang terserap tubuh sesuai dengan ukuran berat badan*), yang merupakan kegiatan yang memudahkan proses detoksifikasi dalam tubuh, maka bisa jadi hal itu menjadi pemicu terjadinya penyakit berat di masa depan.
Maka selama menggunakan pestisida dengan bahan dasar air seperti pestisida nabati yang menggunakan bahan organik yang berbau tajam, pahit atau pedas, atau menggunakan ecoenzyme, maka bagi saya tanaman tersebut termasuk organik.
Jadi, ada di dalam aliran organik manakah Anda?
Cipinang, 1 Agustus 2020
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
*) Bila ingin tubuh dapat melakukan detoksifikasi dengan baik, maka ukuran air putih terserap tubuh yang disarankan adalah ‘berat badan dibagi 20’.
Contoh: bila berat badan 60 kg, maka kebutuhan minimal air putih terserap tubuh dalam satu hari adalah 60:20 = 3 liter.
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Friday, July 31, 2020
Saya merasakannya dalam beberapa hari terakhir ini terkait dengan berupaya konsisten menulis seputar urban farming dan kebijaksanaan yang mengikutinya sesuai dengan yang pernah dan sedang saya alami.
Sudah terdapat beberapa judul tulisan, namun saya lewati dulu karena tulisan ini lebih relevan dengan yang saya rasakan hari ini.
Ya, konsistensi. Saya sedang melatih diri untuk konsisten menulis. Mengingat usia yang masih tergolong muda, namun sudah berada di tengah-tengah kecenderungan jatah usia manusia di Indonesia pada umumnya, maka saya perlu lebih banyak belajar. Dan karena ingin banyak belajar, maka saya perlu lebih banyak menulis.
Mengapa menulis? Karena belajar (melalui membaca, mendengarkan podcast, menonton video pembelajaran, dan sebagainya) itu seperti menghirup udara. Dan bila tidak dihembuskan dengan menghasilkan sebuah karya, dan menulis adalah yang paling sederhana yang bisa saya lakukan, maka bisa jadi diri ini tidak akan mudah untuk menyerap ilmu-ilmu selanjutnya.
Karena seperti yang disebutkan oleh futurolog Alvin Toffler, “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn.”
“Yang disebut buta huruf di abad 21 bukanlah orang yang tak bisa membaca dan menulis, tapi yang tidak bisa belajar (learn), meninggalkan hal yang relevan (unlearn), dan belajar ulang (relearn).” (Dikutip dari rumahinspirasi.com)
Yup. Saya meyakini bahwa saya, bila masih diberi usia, akan bisa ikut merasakan suasana kehidupan di abad 21 ini. Artinya, bila ingin menjadi bagian dari warga abad 21 yang bisa mengikuti perkembangan zaman, saya perlu mempersiapkan diri untuk terus belajar, untuk melepas apa yang sudah saya pelajari kalau itu sudah tidak relevan, dan kembali belajar hal-hal yang baru.
Mudah? Jelas akan sangat menantang, karena di sanalah antara ego dan nilai-nilai hidup yang diyakini akan mewarnai setiap keputusan belajar.
Dan semua akan berjalan bersama dengan proses perenungan.
Dan sepertinya salah satu momen perenungan yang bisa saya rasakan adalah saat menulis. Ya, seperti saat sedang menulis tulisan ini atau sedang menuliskan jurnal syukur atas apa yang saya alami setiap harinya.
Semoga saya bisa terus konsisten menulis, menulis apa pun yang sedang saya pikirkan dan saya rasakan, khususnya terkait dengan urban farming, sebuah aktivitas dan kegiatan yang sepertinya akan saya lakukan seumur hidup saya, di mana pun saya berada.
Semoga saya bisa konsisten, sekonsisten tanaman yang memberikan begitu banyak manfaat karena kehadirannya.
Cipinang Muara, 31 Juli 2020
#selfreminder
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
Keterangan gambar: Hasil stek tanaman basil di rockwool yang sudah siap pindah ke instalasi hidroponik.
=========
Untuk sharing, tulisan lebih lengkap dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Sunday, July 26, 2020
![]() |
| Panen kangkung hidroponik bersama Oji dan Yanthi dari instalasi yang diceritakan |
Sampai suatu hari instalasi NFT 80 lubang sampai di jemuran rumah kami. Mas Aar menghadiahkannya kepada Mbak Lala yang sedang bersemangat mencoba hidroponik untuk hadiah ulang tahunnya.
Di sanalah saya mengenal dan belajar tentang sistem. Sebuah cara yang begitu memudahkan seseorang yang ingin memiliki sayuran di rumahnya sendiri.
Mudah, karena tidak perlu menyiram atau menunggui tanamannya. Cukup mengecek aliran air dan kadar nutrisi setiap harinya. Bahkan saat usia tanaman masih di minggu-minggu pertama, bisa dicek per 3 hari sekali.
Mudah, karena untuk menghadirkan oksigen terlarut, saya tidak perlu meniup-niupkan udara ke lusinan botol air mineral. Aliran air yang menghadirkan gelembung-gelembung di dalam ember sudah cukup memenuhi kebutuhan oksigen terlarut.
Mudah, karena hanya mengurus satu sumber air, kita dapat memiliki hasil panen sebanyak lubang tanam yang kita miliki pada instalasi.
Dan berbagai kemudahan lainnya, seperti instalasi ini tidak akan jatuh disenggol kucing atau tertiup angin.
Ya, instalasi NFT milik Mbak Lala itu membukakan sebuah pemahaman betapa sistem itu begitu memberikan kemudahan sehingga kita bisa lebih mengalokasikan waktu kita untuk mengembangkan hal-hal yang lain. Waktu untuk ber-urban farming kita pun menjadi lebih efektif dan efisien.
Investasi di awalnya terlihat besar, namun nilai itu cukup sekali dikeluarkan dan kita bisa mendapatkan hasil panennya setiap bulan selama beberapa tahun ke depan, sesuai dengan bahan dasar yang digunakan. Semakin kuat bahan dasarnya, semakin panjang usia pakai instalasinya.
Dan foto-foto proses hidroponik dan panennya mulai menghiasi media sosial sebagai ajang dokumentasi sekaligus berbagi inspirasi.
Dan dari sinilah semua itu bermula.
Cipinang Muara, 26 Juli 2020
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Saturday, July 25, 2020
Selesai dari mengikuti pelatihan hidroponik bersama Pak Ronny dan Bu Bertha, mulailah aku dan Mbak Lala mencoba menerapkannya di rumah dengan sumber-sumber daya yang kami miliki.
Selain starterkit wick system yang kami beli saat pelatihan, kami juga mencoba membuat hidroponik wick system menggunakan botol-botol air mineral, yang kami potong dua, lalu bagian atasnya dibalik masuk ke dalam bagian bawah sehingga menyerupai pot. Lalu kami cat botolnya dan diberi sumbu, voila! Jadilah pot hidroponik wick system.
Saat itu lebih dari dua puluh botol wick system kami buat. Dan dari sanalah kami belajar dan menemukan betapa metode wick system menggunakan botol air mineral ini tidak terlalu cocok di tempat kami.
Salah satu faktornya adalah angin kencang yang kadang bertiup di siang hari, juga kucing-kucing yang berlewatan di jemuran membuat botol-botol tersebut kerap terguling dan tanaman di dalamnya pun mati.
Betul, botol-botol itu aman saat masih terisi nutrisi. Dan saat nutrisi mulai berkurang, mulailah mereka bertumbangan.
Ditambah lagi salah satu hal yang penting di dalam hidroponik adalah suplai oksigen terlarut pada larutan, yang dalam wick system dihadirkan dengan cara diberi aerator atau ditiupkan udara setiap hari dengan sedotan ke dalam larutannya.
Kalau satu kali tiup saja masih OK. Begitu ada 20 botol yang perlu ditiup setiap hari, ternyata tidak mudah untuk menjaga semangat dengan konsisten. Maka metode ini, wick system dengan botol air mineral, tidaklah efektif di tempat kami.
Bagaimana dengan wick system melalui starterkit yang kami beli? Menghasilkan dengan baik.
Dan perjalanan menemukan instalasi hidroponik yang paling cocok di rumah pun berlanjut.
Cipinang Muara, 25 Juli 2020
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Friday, July 24, 2020
Kita bahas dulu kebelumberhasilannya ya, apa saja sekiranya faktor yang memungkinkan menjadi penyebab kebelumberhasilan. Karena bertumbuhnya sebuah tanaman dengan baik sampai panen dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya:
1. Kualitas benih
Dalam menyemai, sangat memungkinkan ada benih yang tidak sprout. Karena benih ternyata juga memiliki masa kadaluarsa. Bila mendapati benih yang disemai tidak kunjung sprout dalam waktu sampai dengan 2 minggu, disarankan untuk menebar saja semua bibit yang ada di tanah. Dan disarankan juga untuk menanam kembali saat benih yang ditanam tidak tumbuh, tidak menyerah karena belum berhasil, karena bisa jadi kita kebetulan sedang berhadapan dengan benih yang tidak mau atau tidak bisa tumbuh.
2. Kualitas air
Dalam organik, apalagi hidroponik, kualitas air untuk penyiraman atau untuk air baku sangatlah berperan di dalam menentukan keberhasilan. Tentunya dalam menanam organik faktor tanah lebih menentukan, karena air lebih berperan untuk membuat unsur-unsur hara yang ada dalam tanah bisa terserap oleh akar. Sedangkan pada hidroponik yang menjadikan air sebagai sumber utama kehidupannya, maka kualitas air sebagaimana memiliki pH di antara 5-6.5, ppm awal di bawah angka 100, menjadi kriteria yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang optimal.
3. Kualitas sinar matahari
Dalam menanam tanaman pangan, maka paparan sinar matahari memiliki peranan yang sangat penting. Semakin banyak paparan sinar matahari, akan membuat tanaman menjadi semakin kuat dan kokoh. Dalam hidroponik, tentu menjadi lebih mudah memenuhi persyaratan terkena matahari lebih banyak karena kebutuhan airnya sudah terpenuhi sepanjang hari. Sedangkan dalam organik, sebagaimana di musim kemarau saat tulisan ini dibuat, maka perlu diperbanyak frekuensi penyiraman media tanam menjadi setidaknya dua kali sehari, pagi dan sore bila ingin mendapatkan hasil yang baik dan tanaman terhindar dari layu akibat penguapan yang lebih banyak dari biasanya.
4. Hama
Nah, ini dia tantangan paling asyik dalam ber-urban farming, yaitu saat berhadapan dan berdampingan dengan hama yang ikut menikmati tanaman yang kita tumbuhkan. Bahkan untuk saya pribadi, menyikapi hama inilah yang cukup menentukan mood dalam ber-urban farming. Walau sekali lagi, kitalah yang memutuskan untuk larut dalam kesedihan dan tidak melanjutkan lagi atau tetap bersemangat mencari solusi mengatasi hama dan menanam lagi. Dan itulah yang akan dihadapi seumur hidup kita di dalam ber-urban farming.
5. Waktu
Yup. Ini juga faktor yang menentukan berhasil atau belum berhasilnya kita dalam ber-urban farming. Karena waktu yang belum teralokasikan dengan konsisten, akan membuat hasilnya juga tidak akan optimal.
Demikian 5 faktor yang dapat mempengaruhi hasil dari urban farming yang kita lakukan. Dan ini semua adalah faktor teknis, yang tidak akan mudah untuk dipenuhi bila faktor non-teknis dan yang terutamanya belum terpenuhi, yaitu menemukan ALASAN YANG KUAT mengapa kita melakukan urban farming.
Karena saat kita mengetahui mengapa kita melakukannya, kita akan mencari caranya.
“Where you know the why, you will find the how.”
Cipinang Muara, 24 Juli 2020
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Thursday, July 23, 2020
![]() |
| Contoh instalasi hidroponik DFT 20 lubang yang diperlihatkan |
Dua hari yang lalu, saya dijapri oleh seorang sahabat yang sedang mempertimbangkan ingin memasang instalasi hidroponik di rumahnya.
Setelah saling berbalas pesan beberapa kali, termasuk berbagi gambar instalasi hidroponik yang bisa dipilih sebagai alternatif.
Ada satu pertanyaan beliau yang menarik, yang menurut saya sangat wajar sebagai pemula di bidang urban farming. Kurang lebih begini pertanyaannya, “Saya kurang pandai kak. Ini mau belajar apa bisa berhasil ya?”
Sahabat semua, apakah ada yang bisa memastikan keberhasilan usaha kita saat melakukan sesuatu?
Berdasarkan pemahaman dan pengalaman yang telah saya lalui, maka saya menjawab, “Sepengalaman saya, ketika kita sudah mencoba dan melakukan, maka kemungkinannya adalah 50-50, 50% berhasil dan 50% belum berhasil. Namun kalau tidak mencoba sama sekali, ya jelas PASTI 100% nggak berhasil.”
Tentu jawaban saya kepada beliau tidak menggunakan kata ‘PASTI’ untuk tetap mengedepankan sopan-santun dalam bertutur walau melalui daring.
Jawaban ini juga berlaku bagi sahabat-sahabat, bukan Anda yang membaca tulisan ini tentunya, yang menganggap tangannya panas sehingga merasa tidak berbakat untuk menumbuhkan tanaman, yang menyebabkan tanaman yang ditanam selalu mati.
Karena begitu kita memutuskan untuk tidak mencoba sekali lagi dengan alasan apa pun, maka tentu sudah jelas ketidakberhasilan PASTI berada di depan mata.
Jadi, sesungguhnya tidak ada kata ‘gagal’. Yang ada hanyalah sukses atau belajar.
Apakah saya tidak mengalami kegagalan di dalam melakukan urban farming? Bisa jadi saya mengalami kegagalan atau kebelumberhasilan juauh lebih banyak dibandingkan sahabat-sahabat yang membaca tulisan ini, yang baru akan atau sudah memulai proses urban farming-nya. Karena apa? Karena saya sudah memulai lebih dulu dan bisa jadi akan tetap ber-urban farming saat Anda membaca tulisan ini.
Dan ketika saya tetap melakukan, niscaya saya akan terus mengalami kebelumberhasilan.
Karena saya semakin melihat dan menyadari bahwa kebelumberhasilan adalah sepaket di dalam urban farming, demikian pula keberhasilan, maka saya memilih untuk menerima paket tersebut dan berusaha untuk terus menikmati setiap proses dan perjalanannya, serta selalu belajar dari setiap kebelumberhasilan.
Itu dari sisi mindset atau pola pikirnya. Apa saja yang menyebabkan kebelumberhasilan selalu sepaket di dalam proses urban farming? Akan kita bahaskan di tulisan selanjutnya.
Selamat memutuskan, sahabat semua. Karena berhasil maupun belum berhasil, sukses atau masih perlu belajar, kita memiliki andil di dalamnya. Dan dengan mengambil tanggung jawab di dalam setiap proses juga hasil yang terjadi, akan membuat perjalanan dalam ber-urban farming menjadi lebih menyenangkan dan membahagiakan. Setidaknya itu yang saya rasakan. Siapa tahu sahabat semua juga merasakan hal yang sama :)
Cipinang Muara, 23 Juli 2020
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Wednesday, July 22, 2020
Teringat 4 tahun yang lalu saat saya memutuskan untuk mendokumentasikan kegiatan komposting dan urban farming yang saya lakukan.
Saat itu, tidak terlintas sedikit pun di dalam pikiran bahwa 4 tahun kemudian channel Youtube www.Rumah-Hijau.net atau bit.ly/YoutubeRumahHijaunet ini akan memiliki subscribers sebanyak ini.
Apakah 5.000 adalah jumlah yang banyak? Tergantung sudut pandang dan niat awal dari dibuatnya sebuah channel Youtube.
Saat yang menjadi ukuran adalah penghasilan yang bisa didapat dari Youtube, 5.000 subscribers adalah angka yang tidak besar. Dan 5.000 subscribers dalam waktu 4 tahun adalah sebuah perjalanan yang sangat tidak cepat untuk sebuah Youtube Channel. Apalagi komposting dan urban farming bukanlah topik yang populer dan saya pada awalnya bukanlah seorang public figure, pengusaha atau influencer yang sudah memiliki basis massa.
Itu adalah salah satu sudut pandang.
Bagi saya pribadi, 5.000 subscribers berarti setiap postingan video ataupun tulisan saya akan menyentuh setidaknya 5.000 akun. Dari 5.000 akun ini, bila ada 1%-nya saja, berarti sekitar 50 orang, yang mendapatkan manfaat dan tergerak untuk melakukan komposting atau urban farming, maka berapa banyak sampah organik yang terpilah dan terolah, berapa banyak oksigen dan sayuran segar yang dihasilkan dari halaman rumah masing-masing yang niscaya bebas pestisida dan berantioksidan tinggi karena bisa dinikmati langsung dari sumbernya?
50 orang dibandingkan 250 juta penduduk Indonesia, niscaya sebuah angka yang terasa begitu kecilnya. Namun 50 orang ini bisa membuat perubahan di lingkungannya masing-masing. 50 orang ini bisa menjadi inspirator dan penggerak untuk membawa lingkungan tempat tinggalnya menjadi lebih bersih, lebih asri dan lebih bermanfaat.
Dan sebagaimana awal dibuatnya, channel Youtube Rumahhijaunet ini tetap akan menjadi tempat bagi saya medokumentasi perjalanan komposting dan urban farming, menjadi sumber inspirasi dan sahabat bagi teman-teman yang sedang memulai perjalanan urban farming-nya, bahwa semua itu bisa dilakukan dengan mengoptimalkan kearifan lokal di tempat tinggal kita masing-masing.
Bersyukur kita hidup di Indonesia, negara dengan dua musim yang memudahkan banyak jenis tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Maka yang perlu dimiliki adalah informasi bahwa kita bisa menjadi negara yang semakin mandiri pangan, yang semakin peduli terhadap pemilahan dan pengolahan sampahnya. Ya, dengan segala sumber daya, kearifan lokal dan kebijaksanaan yang kita miliki, Indonesia amat sangat mungkin menjadi negara yang semakin kuat karena semakin peduli terhadap ketahanan pangan dan pengolahan sampahnya.
Terima kasih kepada sahabat semua yang sudah berkenan menjadi teman seperjalanan Channel Youtube Rumahhijaunet selama 4 tahun terakhir ini. Mohon doanya semoga channel ini dapat terus konsisten menjadi sumber inspirasi dan semangat bagi teman-teman yang ingin melakukan komposting dan urban farming.
Sekali lagi, terima kasih :)
Cipinang Muara, 22 Juli 2020
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Tuesday, July 21, 2020
Dalam tulisan kali ini, saya ingin lebih berfokus kepada alokasi waktu. Dengan sumber daya kita yang terbatas, 24 jam dalam sehari, maka kita perlu mengalokasikan waktu untuk ber-urban farming.
Bagi sahabat-sahabat yang sudah menjadikan urban farming sebagai profesi dan bisnis, maka alokasinya bisa lebih panjang dan serius, bahkan dapat melipatgandakan waktu dengan cara bekerjasama dengan orang lain atau membangun tim.
Namun bagi sahabat-sahabat yang berurban farming secara mandiri, menjadikan urban farming sebagai hobi, kalau hanya untuk keasyikan sesaat silakan saja dilakukan kapan pun Anda mau. Dan bila Anda ingin menjadikannya sebagai kegiatan yang bertahan lama dan berkelanjutan, mengalokasikan waktu untuk ber-urban farming menjadi sebuah hal yang perlu lebih direncanakan.
Bagi saya pribadi, prinsip alokasi waktu ini baru mulai diterapkan dalam masa-masa pandemi ini, saat salah satu mentor bisnis dan kehidupan saya mengingatkan tentang ‘blocking your time’.
Mengapa pada saat pandemi? Padahal selama ini juga waktu keseharian sudah lebih banyak di rumah. Ternyata saat berkegiatan di rumah dilakukan secara masif, suasananya menjadi berbeda. Urusan keluar rumah betul-betul hanya untuk memenuhi kebutuhan keseharian ke pasar, memasang instalasi hidroponik atau mengantar komposter. Urusan lainnya seperti meeting atau koordinasi dengan klien bisa dilakukan dari rumah.
Nah, karena ‘urusan lainnya’ ini bisa dilakukan dari rumah inilah yang membuat alokasi waktu atau ‘blocking your time’ menjadi lebih sangat penting. Mengapa penting? Karena semakin banyak hal yang bisa dan merasa perlu diselesaikan secara online.
Pertemuan-pertemuan lewat daring, baik komunitas maupun pengembangan diri, urusan belajar mandiri bersama PKBM untuk anak pertama, menyimak materi-materi pembelajaran maupun hiburan via Youtube dan Spotify, semakin melengkapi dan memadati jadwal keseharian, yang mana bila ber-urban farming tidak dialokasikan waktunya, seakan-akan saya tidak punya waktu lagi untuk itu.
Dengan padatnya aneka kegiatan, bisa jadi ber-urban farming menjadi sebuah kegiatan yang ‘enggan’ dilakukan. Karena apa? Karena kita menjadi khawatir waktu kita akan terserap lebih banyak ke sana. Sangat bisa dipahami karena kalau sudah mengurusi tanaman kita bisa jadi keasyikan dan lupa waktu. Ada yang pernah mengalaminya sebagaimana saya? xD
Karena itu saat ini, saya mengalokasikan waktu setidaknya 20 menit setiap harinya setelah olahraga dan menulis pagi untuk menyiram tanaman, membibit, mengecek nutrisi bahkan memanen hasil.
Yup, hanya 20 menit saja untuk aktivitas urban farming yang pokok. Kalau mau lebih, tentu boleh saja.
Katakanlah saat mengurusi tanaman, kita melihat ada hal-hal yang ingin dilakukan seperti menyiangi tanaman tomat yang sudah membesar, memindahkan bibit dari bak tanaman ke instalasi, menyetek tanaman mint, basil atau jinten, membongkar atau menambah media tanam untuk tanaman organik, atau mengurusi hama dengan pitesida maupun eco-enzyme, maka hal-hal di luar alokasi waktu tersebut perlu dijadwalkan dan direncanakan. Misalkan saya akan menambah 20 menit lagi untuk mengerjakan hal tersebut, namun akan saya lakukan di hari berikutnya, tidak di hari saya ingin melakukannya. Kecuali memang saya ingin segera mengalokasikan waktu yang berarti mengambil jatah waktu untuk kegiatan yang lainnya.
Ya, semakin hari saya semakin melihat betapa dibutuhkannya alokasi waktu dalam ber-urban farming, agar keseharian kita bersama tanaman tidak menjadi rutinitas yang menjenuhkan, namun menjadi kegiatan terencana yang membahagiakan.
#selfreminderbanget
Cipinang Muara, 21 Juli 2020
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Monday, July 20, 2020
Ada yang terlahir sudah di tengah keluarga petani atau peladang. Membenih, merawat, memanen sampai membenih lagi sudah ada di dalam darahnya dan lingkungannya. Dan ada yang terlahir di dalam keadaan sebaliknya, tidak terpapar dunia tanaman atau pertanian sama sekali. Hanya mengetahui tanaman dari hasil yang sudah tersedia di meja makan atau sekadar tanaman hias yang di halaman rumahnya.
Ya, setiap dari kita memiliki kapasitas dan kita memiliki pilihan apakah akan memperbesar atau membiarkan kapasitas tersebut tetap berada di dalam diri tanpa dioptimalkan menjadi sebuah karya yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.
Demikian pula dalam dunia pertanian, khususnya dalam urban farming. Dan karena pengembangan kapasitas juga terkait dengan sumber daya sedang dimiliki saat ini, maka keputusan untuk mengembangkannya terletak pada diri kita masing-masing.
Tidak sedikit sahabat yang karena melihat aktivitas saya sebagai urban farmer, menganggap bahwa saya memiliki lahan luas sehingga bisa menjadi penyedia sayur hidroponik maupun organik yang bebas pestisida.
Terima kasih untuk doa dan perhatiannya ya sahabat semua. Sungguh saya meyakini bahwa saat ini, saat tulisan ini dituangkan, saya memiliki ilmu dan kapasitas untuk itu, untuk menjadi penyedia sayuran hidroponik dalam skala yang lebih besar. Dan mengingat bahwa makanan adalah sektor bisnis yang akan terus dibutuhkan di segala kondisi, baik dalam keadaan normal maupun tidak normal seperti suasana pandemi pada saat ini, maka saya bersyukur memiliki ilmu dan kapasitas ini.
Dan sampai saat ini, 200-an lubang tanam yang ada di rumah ternyata masih difungsikan untuk memenuhi kebutuhan sayuran untuk keluarga sendiri. Sesekali hasil panennya dihadiahkan untuk tetangga dan sahabat terdekat.
Dan karena kapasitas yang dimiliki ini pulalah yang membuat saya dapat melihat peluang-peluang menambah lubang di mana lagikah yang dapat dioptimalkan pada lahan lantai dua rumah saya.
Dan memang kita perlu membayangkan dahulu apa asyiknya menjadi petani dan penyedia sayuran, apa kebahagiaan yang dapat dirasakan saat bertukar sayuran dan menambah benih-benih silaturahmi baru saat mengantarkan sayuran yang dipesan baik secara langsung maupun melalui dunia maya. Agar apa? Agar lebih tergerak untuk segera mengeksekusi tambahan lubangnya.
Saat ini saya sedang membuat sebuah prototype rakit apung skala kecil yang lebih muat di lahan terbatas saya. Bila terlihat menjanjikan, semoga ke depannya akan lebih banyak lubang tanam di rumah, dan lebih banyak sayuran yang ditumbuhkan sehingga bisa lebih banyak berbagi hasil panennya.
Semangat!! :)
Cipinang Muara, 20 Juli 2020
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Saturday, July 18, 2020
Karena urban farming adalah sebuah perjalanan yang akan dilakukan seumur hidup, maka niscaya penting untuk dapat senantiasa mensyukuri keberhasilan-keberhasilan kecil di dalam proses kesehariannya.
Tulisan ini lebih ditujukan untuk sahabat-sahabat yang sedang ingin memulai dan sudah menjalani urban farming skala rumah tangga, hobi maupun bisnis urban farming skala kecil. Tentu saja bagi sahabat-sahabat yang sudah memiliki bisnis bidang pertanian yang besar juga bisa mengambil hikmahnya.
Dalam sebuah bisnis yang sudah besar dan berjalan, tentu target-target jangka pendek, menengah dan panjang sudah lebih mudah terpetakan dan bisa dipecah menjadi target-target terukur yang perlu diselesaikan setiap harinya.
Bagaimana dengan urban farming skala rumah tangga? Yang saat tulisan ini dihadirkan, saya pun masih menjalankannya hari demi hari.
Inginkah saya mengelola sebuah lahan yang lebih besar dan menerjunkan diri dalam bisnis urban farming tersebut? Mengapa tidak? Dengan sistem hidroponik, dengan rangkaian upaya yang sederhana setiap harinya, saya bisa mendapatkan hasil yang berlipat ganda 3-4 minggu ke depannya.
Ilmunya sudah dimiliki dan dipraktikkan dalam skala kecil, tinggal diduplikasi dan diperbesar kapasitasnya.
Yup, dalam tulisan selanjutnya saya akan berbagi seputar kapasitas urban farming.
Kembali ke keberhasilan-keberhasilan kecil yang saya ingin capai setiap harinya. Keberhasilan seperti apakah?
Sesederhana berhasil menengok dan menyapa tanaman-tanaman saya setiap harinya.
Ya, sesederhana itu. Sudahkah kita menengok dan menyapa tanaman kita hari ini?
Saat menengok dan menyapa, niscaya kita akan melihat ada hal-hal yang perlu dilakukan untuk membuat tanaman-tanaman kita bisa berkembang dengan baik. Mulai dari menyiram, mengecek aliran air, mengatur kadar nutrisi, membersihkan hama dan gulma, bahkan mengatur ulang posisi agar mendapatkan asupan sinar matahari yang lebih optimal. Karena setiap bulannya, matahari mengalami pergeseran yang bisa jadi membuat kita perlu memindahkan tanaman agar mendapatkan sinarnya.
Keberhasilan kecil saya sedang saya lengkapi dengan membibit setiap hari. Seberapa banyak? Cukup 5-10 benih setiap harinya. Artinya hanya membutuhkan tidak sampai 1 menit untuk menyelesaikannya. Namun niat untuk menjadikannya itu yang perlu terus-menerus diperkuat. Dengan cara apa? Dengan cara menemukan alasan yang kuat mengapa itu harus dilakukan.
Dan mengapa hanya 5-10 benih setiap hari? Karena sekian netpotlah yang biasanya saya panen untuk memenuhi kebutuhan sayuran keluarga. Kalau ada lebih, maka bisa saya bagikan hasil panennya ke kerabat dan tetangga.
Jadi, apa keberhasilan kecil Anda dalam ber-urban farming? Sudah menyapa tanaman Anda hari ini? :)
Cipinang Muara, 18 Juli 2020
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Friday, July 17, 2020
Usai pelatihan, saya dan Mbak Lala menghampiri Pak Ronny untuk foto bersama sekaligus sedikit bincang-bincang ekstra. Kebetulan Mbak Lala dan Pak Ronny berada di satu komunitas Green Design Community, jadi sepertinya mereka sudah saling mengenal.
Saat mengetahui bahwa aku adalah praktisi menanam organik, Pak Ronny mengatakan, “Bagus mas. Jalani keduanya ya.” Jadi, jangan karena menganggap hidroponik terlihat lebih bagus hasilnya dan lebih mudah prosesnya, lalu meninggalkan metode tanam organik, karena keduanya bisa dijalani bersamaan.
Nasihat itulah yang menjadi salah satu peganganku di dalam berurban farming sampai hari ini. Dikuatkan dengan pengalaman keseharian menemani sahabat-sahabat dalam menemukan bentuk urban farming terbaiknya selama setidaknya 3 tahun terakhir ini, saya semakin melihat bahwa setiap orang memiliki karakter dan kekuatannya di dalam menentukan bentuk urban farming seperti apa yang terbaik untuk mereka, yang sangat didukung dan dipengaruhi oleh faktor situasi dan lingkungan.
Jadi, mau organik, hidroponik, komposting, budikamber, aquaponik, biopori, vertical garden, apa pun metode dan istilahnya, semua bisa berjalan seiringan.
Tidak ada metode yang lebih baik antara satu dengan yang lainnya, yang ada hanyalah metode yang lebih relevan dan sesuai dengan situasi dan kondisi pada saat itu, pada saat ini, pada saat Anda mulai menjalani urban farming Anda.
Demikianlah tulisan ini, juga media-media sosial yang saya kelola, baik pribadi maupun mengatasnamakan Rumah Hijau atau #rumahhijaunet, semua bertujuan untuk menjadi sumber inspirasi juga menjadi teman seperjalanan bagi sahabat-sahabat yang sedang ber-urban farming dengan berbagai metode.
Saat tulisan ini dibuat, saya sedang mempersiapkan diri untuk mencoba budidaya ikan dalam ember ataupun akuaponik. Sudah pernah mencoba sebelumnya, namun masih belum memberikan hasil yang optimal.
Nah, semangat untuk menjaga konsistensi dari metode yang sudah ada sambil mencoba metode-metode baru inilah yang perlu kita pelihara bersama sebagai urban farmer. Boleh-boleh saya berfokus pada hasil, dan niscaya akan jauh lebih menyenangkan saat kita berfokus pada proses, pada keberhasilan-keberhasilan kecil yang kita capai setiap harinya.
Apa keberhasilan kecil yang saya syukuri setiap hari dalam urban farming? Di tulisan berikutnya ya :)
Cipinang Muara, 18 Juli 2020
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Thursday, July 16, 2020
“Ndit, mau ikut pelatihan hidroponik di Cibubur? Pergi sama mbakmu. Aku traktir.” Demikian ucapan kakak iparku, Mas Aar, suatu pagi. Saat itu aku sudah mulai asyik menikmati hari-hariku berkebun secara organik, bercengkrama hangat dengan polybag, media tanam dan tentu saja pupuk-pupuk hasil komposting sampah rumah tangga.
Tentu saja aku mau. Mempelajari hal baru yang sedang diminati sungguh memberi semangat tersendiri.
Maka pergilah aku dan kakakku, Mbak Lala, ke Pelatihan Hidroponik yang dimentori oleh Pak Ronny Tanumihardja dan Ibu Bertha Suranto.
Di sana, seperti ada lampu-lampu yang menyala di dalam kepala. TING! TING! TING! TING! Wow, ini betul-betul metode yang sangat menarik. Mengapa menarik? Karena bisa memberi pilihan solusi untuk teman-teman yang ingin berkebun namun masih mempertimbangkan beberapa alasan: tidak suka kotor, takut cacing, super sibuk sehingga tidak sempat menyiram, dan berbagai alasan organik lainnya.
Investasi di awal berhidroponik memang terlihat lebih seru (bagi yang membuat instalasi sendiri) atau tidak murah (bagi yang ingin memesan instalasi), namun itu hanya sekali di awal, dan selanjutnya menjadi lebih mudah karena tidak perlu menyiram setiap hari. Cukup mengecek jumlah air dan nutrisi sesuai usia tanaman setiap harinya, sudah, bisa ditinggal dan dinikmati hasilnya 3-4 minggu kemudian untuk jenis tanaman sayuran.
Jadi, mau pilih berkebun ala apa? Hidroponik atau organik? ;)
Cipinang, 16 Juli 2020
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
#hidroponik
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Wednesday, July 15, 2020
Siapa menyangka bahwa teknologi dokumentasi dan berbagi saat ini berkembang begitu pesat, sehingga untuk melakukannya menjadi lebih mudah.
Dan kebahagiaan yang saya rasakan saat melihat benih-benih yang saya tanam mulai bertumbuhan ingin saya dokumentasikan. Hari demi hari, baik proses komposting maupun bertanam sayuran organik saya dokumentasikan di media sosial. Tidak bertujuan untuk mencari jempol dan komentar dari sahabat-sahabat netizen, namun untuk menjadi catatan dan pengingat betapa setiap momen ada langkah dan pencapaiannya.
Dan berkat dokumentasi sekaligus berbagi ini saya dikenal sebagai urban farmer yang memanfaatkan lahan sempit di rumah oleh sebagian teman-teman saya, khususnya teman satu SMA. Dan saya diundang untuk hadir menjadi salah satu narasumber saat kumpul-kumpul reuni di salah satu rumah makan di bilangan Jakarta Timur yang dikelola oleh teman SMA.
Akhirnya, semua kembali kepada niatannya, semua kembali kepada untuk apa kita menanam, mendokumentasi dan membagikannya. Dan sungguh bersyukur niatan saya untuk menginspirasi bahwa kita bisa menjadikan lahan sempit di rumah menjadi menghasilkan, plus juga bisa berkontribusi menjaga lingkungan melalui proses komposting membawa saya sampai di titik sekarang ini, menjadi sahabat, edukator dan motivarmer untuk teman-teman yang ingin memulai dan menjalani urban farming.
Karena ber-urban farming adalah sesuatu yang akan kita lakukan sepanjang kehidupan kita, selama kita ingin menjadi bagian dari manusia-manusia yang memakmurkan bumi tempat tinggal kita bersama.
Cipinang, 15 Juli 2020
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Tuesday, July 14, 2020
Kasihan kenapa? “Kasihan kalau kena matahari terlalu banyak, kan masih kecil.”
Dan 2-3 hari setelahnya saya melihat benih-benih itu semakin tinggi menjulang, semakin kutilang (kurus, tinggi, langsing), dengan batang yang lemah seperti toge, tidak mewujud seperti kangkung yang saya harapkan, dan kemudian berguguran bibitnya.
Bersyukur saat itu saya hidup di era di mana mencari informasi melalui internet adalah sesuatu yang membuat pencarian tips-tips aneka solusi menjadi lebih mudah.
Dan saya menemukan bahwa benih tanaman yang baru sprout justru perlu segera dijemur matahari sebanyak mungkin.
Ooh begitu ya. Ternyata kasihan yang saya rasakan tidak pada tempatnya. Saya merasa kasihan kalau benih-benih yang masih kecil itu terpapar matahari, padahal justru kasihan mereka yang tidak terkena matahari.
Sekali lagi semua kembali kepada tujuannya. Kalau yang dituju adalah menjadi microleaf atau toge, maka sah-sah saja membiarkan mereka menjadi bibit-bibit yang kutilang. Namun bila yang dituju adalah tanaman kangkung yang berdaun dan berbatang seperti yang dijumpai di pasar, maka mempertemukan sinar matahari sesegera mungkin saat benih sudah mulai sprout menjadi penting, bahkan sangat penting dan menentukan.
Begitulah ternyata rasa kasihan pun membutuhkan ilmu agar hasil yang diharapkan dapat tercapai.
Sebagaimana rasa kasihan kita terhadap anak yang terjatuh. Rasa hati tentu ingin segera menolong dan menggendongnya serta menghiburnya, bahkan menyalahkan lantainya.
Apakah sikap itu akan membantu memberikan asupan jiwa terbaik untuk kehidupannya? Bila terus-menerus, bisa jadi tidak. Seorang anak bisa menjadi ‘kutilang’, melemah di fondasi kehidupannya karena tidak terbiasa mengatasi tantangannya dan mengambil tanggung jawab atas setiap peristiwa yang terjadi di hadapannya.
Bagaimana dengan tangisannya? Itu pun bagian dari proses belajar mengelola diri, seberapa lama perlu menyalurkan rasa sakit yang dirasakan dalam bentuk tangis, dan seberapa cepat dia belajar dan bangkit dari peristiwa tersebut.
Ya, kasihan akan menjadi melemahkan atau memperkuat bila diberikan sesuai konteksnya, sesuai tujuannya.
Jadi, sekarang saya merasa kasihan terhadap benih-benih saya yang telat jemur karena tidak ingat kalau sedang membibit x)
Cipinang Muara, 14 Juli 2020
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline
Monday, July 13, 2020
Lalu untuk apa keduanya, sementara saya tidak memiliki tanaman lain selain tanaman-tanaman hias peninggalan eyang pada saat itu?
Maka merekalah yang mendapatkan rezeki tersirami oleh pupuk cair hasil komposting sampah rumah tangga saya.
Dan saya menyaksikan tanaman-tanaman itu berkembangan. Yang terlihat jelas perkembangannya pada saat itu adalah pada tanaman lidah buaya, yang tadinya terlihat biasa-biasa saja terlihat semakin membesar dan menggendut batang-batangnya.
Ya, pupuk-pupuk hasil komposting sampah rumah tangga terlihat memberi efek positif yang luar biasa untuk tanaman-tanaman di rumah saya.
Dan sampailah suatu hari saya berkesempatan untuk mengunjungi sebuah pertanian organik dan hidroponik di daerah puncak bersama komunitas homeschooling yang saya ikuti. Dan di sanalah jiwa petani saya yang selama ini ‘terabaikan’ seperti tersirami lagi, terpupuki lagi dan berkembangan lagi.
Di sana saya melihat bagaimana dengan bermodalkan polybag saya bisa menanam sayuran dan menikmati hasilnya. Artinya? Tidak membutuhkan lahan yang luas untuk bisa menikmati hasil bumi, hasil dari tanaman, sebagaimana yang ada di dalam pemikiran saya dahulu.
Maka kembalilah saya ke rumah membawa beberapa polybag tanaman selada juga benih-benih sayuran seperti kangkung, sawi, tomat dan selada.
Semua benih saya tanam di polybag dan wadah semai. Dan dari sanalah perjalanan saya kembali menjadi petani dimulai :)
Cipinang Muara, 13 Juli 2020
#urbanfarmingwisdoms
#motivarmer
=========
Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet
Untuk mengikuti pelatihan komposting secara online, silakan langsung klik link berikut:
bit.ly/PelatihanKompostingOnline

















