Kulit telur niscaya menjadi limbah rumah tangga yang umum dimiliki oleh setiap hunian. Dengan sedikit upaya, kulit telur bisa menjadi salah satu pupuk organik yang mudah diperoleh sehari2. Caranya bisa langsung dihancurkan dan ditebar di tanah.
Di Rumah Hijau, aku mengumpulkan kulit2 telur, lalu menyangrainya bersama2 terlebih dahulu. Tujuannya agar mudah dihaluskan menggunakan blender kering, juga mengurangi bau anyir dari sisa telur yang menempel di kulitnya.
Showing posts with label pupuk. Show all posts
Showing posts with label pupuk. Show all posts
Wednesday, August 19, 2015
by Andito
4:58 PM
#BahagiaAdalah punya sahabat juragan KanGen Water. Selain diberi kebaikan free flow untuk kebutuhan air minum di rumah, kini tanaman2 di rumah juga kebagian KanGen Water dengan kondisi tertentu yang merupakan hasil sampingan dari proses peningkatan kualitas air minum tersebut.
KanGen Water dikabarkan mengandung pH yang tepat untuk menjaga kondisi tubuh tetap basa. Karena konon suasana asam di tubuhlah yang membuat tubuh menjadi mudah terkena penyakit.
Tidak hanya itu, KanGen Water juga mengandung antioksidan yang baik untuk mencegah radikal bebas berkembang di dalam tubuh. Dan partikel air yang lebih kecil (microcluster) membuat air menjadi lebih mudah diserap oleh tubuh. (Kenapa jadi promo KanGen Water gini ya?... xD)
KanGen Water dikabarkan mengandung pH yang tepat untuk menjaga kondisi tubuh tetap basa. Karena konon suasana asam di tubuhlah yang membuat tubuh menjadi mudah terkena penyakit.
Tidak hanya itu, KanGen Water juga mengandung antioksidan yang baik untuk mencegah radikal bebas berkembang di dalam tubuh. Dan partikel air yang lebih kecil (microcluster) membuat air menjadi lebih mudah diserap oleh tubuh. (Kenapa jadi promo KanGen Water gini ya?... xD)
Wednesday, May 20, 2015
Sunday, May 17, 2015
by Andito
6:09 PM
Hari ke-241 komposting. Kembali mengayak pupuk padat. Pupuk halus untuk pembibitan, pupuk kasar untuk pelengkap media tanam.
Delapan bulan menjalani hari-hari memilah dan mengolah sampah rumah tangga, sangat bersyukur masih semangat karena sudah menikmati hasilnya dan masih akan terus belajar :)
Delapan bulan menjalani hari-hari memilah dan mengolah sampah rumah tangga, sangat bersyukur masih semangat karena sudah menikmati hasilnya dan masih akan terus belajar :)
Tuesday, March 3, 2015
by Andito
6:00 AM
![]() |
| Hasil panen pupuk padat dan cair |
ah tangga. Salah satunya adalah betapa ukuran cacahan sampah sepertinya bisa menentukan kualitas pupuk yang dihasilkan.
Sebagaimana hasil panen hari ini dapat dikatakan cukup baik dan normal, setelah sempat mengalami hari-hari panen yang lebih penuh perjuangan di dalam musim hujan. Aroma pupuk padat dan warna sekitar 4,5 liter pupuk cair yang dihasilkan terlihat seperti saat pertama kali pupuk padat dan cair dipanen dahulu kala.
Wednesday, February 25, 2015
by Andito
6:00 AM
Di hari ke-160 menjalani komposting ini, kembali aku memperoleh hasil dari komposter berupa pupuk padat dan pupuk cair, kali ini sejumlah sekitar 2,5 liter.
Salah satu tanaman yang kucoba tanam di rumah adalah bayam merah dan bayam hijau. Semua bibitnya diperoleh dari Mbak Lala yang memiliki simpanan bibit-bibit buah tangan perjalanan ke pertanian organik.
Salah satu tanaman yang kucoba tanam di rumah adalah bayam merah dan bayam hijau. Semua bibitnya diperoleh dari Mbak Lala yang memiliki simpanan bibit-bibit buah tangan perjalanan ke pertanian organik.
Friday, February 6, 2015
by Andito
6:00 AM
![]() |
| Hasil panen pupuk padat dan cair dari komposter |
Ada yang tidak biasa saat aku memanen pupuk cair dan padat pada hari ini. Tong komposter terasa begitu berat dan bunyi pupuk cair yang mengucur seakan tidak habis-habis. Begitu tong komposter kuangkat, kudapati jumlah pupuk cair yang sangat banyak. Hasilnya mencapai 5 liter!
Namun hasil pupuk cair yang melimpah itu ternyata telah merendam bagian bawah komposter, menyebabkan pupuk padatnya terendam oleh pupuk cair, entah telah berapa lama. Yang jelas, saat memanen, aroma pupuknya lebih pekat dari biasanya. Demikian pula tekstur pupuk padat yang terlihat lebih basah.
Wednesday, December 31, 2014
by Andito
5:11 PM
Di tengah gerimis yang turun, siang ini aku kembali mengayak pupuk padat, lalu memanen pupuk cair dan padat. Bersyukur hari ini kembali mendapat sekitar 1,5 liter pupuk cair. Kalau sehari aku biasa memakai sekitar 300 ml untuk tanaman-tanaman yang sedang ditumbuhkan, maka kurang lebih aku punya stok pupuk untuk 5 hari ke depan nih :)
Hari Minggu malam yang lalu, akhirnya Mbak Wilda datang juga membawa penggembur yang kupesan sejak lama. Kedatangan Mbak Wilda dan penggemburnya sungguh sangat diharapkan, karena penggembur yang kumiliki sudah semakin menipis, jadi memakainya agak dihemat-hemat juga. Sebetulnya ada serbuk gergaji untuk menggantikannya, tapi ya begitulah, kualitas hasil pupuknya jadi lebih berbau dan muncul jamur putihnya.
Sunday, December 28, 2014
by Andito
6:00 AM
![]() |
| Hasil ayakan pupuk padat dan sisanya |
Setelah melewati 3 bulan komposting, kini aku bersyukur karena sudah memasuki hari ke-100 melakukan proses komposting sampah rumah tangga di rumah. Dan sampai hari ini, aku masih bersemangat melakukannya. Sebagaimana hari ini aku memanen pupuk cair cukup banyak, sekitar 2,5 liter, juga pupuk padat yang kuambil secukupnya.
Tuesday, December 23, 2014
by Andito
6:00 AM
![]() |
| Hasil ayakan pupuk padat dan sisanya |
![]() |
| Panen pupuk cair dan pupuk padat |
Hari ini, aku kembali berkesempatan memanen pupuk padat dan cair dari komposter di rumahku, setelah sebelumnya mengayak pupuk padat yang dipanen sebelumnya. Dan begitulah, karena musim hujan dan hujan turun cukup intens akhir-akhir ini, dan aku pun terkadang terlewat menutup pupuk padatku sehingga basah terkena cipratan air hujan, hal itu pun membuat hasil ayakan pupuk padat menjadi tidak terlalu banyak.
Beberapa hari yang lalu, aku sedang menyemai semua bibit tanaman yang kumiliki di rumah. Pada saat yang bersamaan, aku memiliki beberapa tanaman melon dan cabai yang mulai besar, yang sudah berada di dalam kantong-kantong polybag hitam, tidak lagi di bak persemaian.
Dari apa yang kualami, aku melihat betapa sesungguhnya bumi ini memiliki sistem untuk menghijaukan dirinya kembali. Dapat dilihat dari satu buah melon saja, setiap bijinya merupakan potensi kehidupan untuk menjadi satu pohon melon yang baru. Demikian pula pada tanaman cabai dimana biji-bijiannya yang biasa dihabiskan dengan sekali lahap, ternyata di dalam setiap bijinya merupakan bibit yang berpotensi menjadi satu pohon cabai yang baru.
Dari apa yang kualami pula, aku melihat betapa setiap potensi untuk tumbuh tersebut ternyata harus melalui seleksi alam juga. Benih yang berada pada lahan yang subur, lalu lingkungan tumbuhnya memungkinkan ia tumbuh optimal, membuatnya dapat tumbuh menjadi pohon baru yang berbuah lagi. Namun yang harus dihadapinya tidak hanya itu. Ada hama seperti kutu-kutu daun maupun semut-semut merah yang dapat menggerogoti nutrisi yang ada di dalam tubuhnya.
Maka setiap individu di atas bumi sesungguhnya mengalami seleksi alam sebagaimana yang kusaksikan ini. Saat memijahkan, hampir semua biji yang potensial dapat lahir. Namun saat tumbuh, bila lingkungan tidak mendukung dan dari dalam tumbuhan itu sendiri tidak dapat menyesuaikan diri, maka ia akan mati. Hanya yang mampu bertahan dan beradaptasi dengan keadaan lingkunganlah yang akan terus hidup.
Sedih juga rasanya saat menyaksikan beberapa tanaman melon, cabai dan pepayaku akhirnya harus terkulai lemas dan mati. Begitulah harga dari proses belajarku. Kini aku sudah lebih siap untuk memijahkan bibit-bibit selanjutnya. Learning by doing, itulah yang terus dan akan selalu kujalani, terkhusus dalam hal bercocok-tanam.
Semoga aku dapat menjadi bagian dari individu yang dapat bertahan hidup dan pula dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan sambil berusaha menjalani perananku di dalam kehidupan ini. Apa perananku? Entahlah, sampai hari ini aku masih terus mencari. Setidaknya saat ini aku berusaha untuk menjadi anak, saudara, suami dan ayah yang baik bagi keluargaku. Dan semoga dengan upaya sederhana mendokumentasi hari demi hari menjalani proses komposting dengan sampah rumah tangga ini dapat memberi kontribusi untuk perbaikan lingkungan. Walau tak seberapa, namun sungguh aku sangat berbahagia menjalaninya hingga hari ini. Semoga konsisten. Amin :)
Friday, December 19, 2014
by Andito
6:00 AM
![]() |
| Hasil ayakan pupuk padat dan sisanya |
![]() |
| Hasil panen pupuk cair dan padat |
Tidak terasa bahwa dalam kegiatan panen pupuk hari ini, aku sudah memasuki hari ke-91 melakukan kegiatan komposting untuk sampah rumah tanggaku. Sungguh aku bersyukur karena aku masih dapat konsisten dan bersemangat melakukannya. Tidak lain karena begitu besarnya manfaat yang kurasakan. Apalagi kalau bukan tak menumpuknya sampah di bak sampah depan rumah, ditambah memiliki pupuk padat dan cair yang sangat bermanfaat untuk bercocok-tanam yang kulakukan di rumah sendiri.
Tentunya keberhasilanku ini tak lepas dari dukungan keluarga yang tinggal serumah denganku. Secara umum tidak ada keluhan atas kegiatan komposting yang kulakukan, selain bila masih ada bau pupuk yang menempel di badan kalau habis panen, atau bila bau pupuk padat yang masuk ke rumah ketika arah angin yang tidak bersahabat.. xD
Tentunya keberhasilanku ini tak lepas dari dukungan keluarga yang tinggal serumah denganku. Secara umum tidak ada keluhan atas kegiatan komposting yang kulakukan, selain bila masih ada bau pupuk yang menempel di badan kalau habis panen, atau bila bau pupuk padat yang masuk ke rumah ketika arah angin yang tidak bersahabat.. xD
Dan pada panen pupuk hari ini, aku mendapatkan cukup banyak hasil ayakan pupuk padat dari panen sebelumnya. Untuk pupuk cair, aku mendapatkan sekitar 1,5 liter. Sip lah! :)
Saturday, December 13, 2014
by Andito
6:00 AM
Hari ini, aku kembali memanen pupuk cair dan padat dari komposter. Sayang, hasil jepretan HP-ku tidak terlalu bagus karena hari sudah agak gelap. Hujan yang turun membuat hasil ayakan pupuk padat tidak terlalu banyak, sedangkan sisanya menjadi cukup banyak. Aku memperkirakan bila sisa pupuk tersebut dimasukkan ke dalam komposter, maka akan langsung penuh lagi. Akhirnya, aku memilih mengambil sebuah keputusan yaitu tidak memasukkan sisa pupuk padat kali ini ke komposter agar mendapatkan ruang yang cukup untuk sampah-sampah dapurku yang selanjutnya.
Monday, December 1, 2014
by Andito
6:00 AM
Tak terasa sudah lebih dari 70 hari aku melakukan kegiatan memilah dan mengolah sampah rumah tangga di rumah. Dan sungguh aku bersyukur atas metode yang kujalankan ini, karena hingga hari ini semua berlangsung dengan lancar dan tanpa kendala yang berarti.
Sebagaimana hari ini cukup banyak pupuk cair yang kupanen, sekitar 2,5 liter. Demikianpun pupuk padat yang dihasilkan juga cukup banyak. Hanya saja karena sepertinya pupuk yang dihasilkan masih merupakan sampah dapur yang diolah dengan serbuk gergaji, ada bau tidak sedap yang keluar dan lumayan membuat penghuni rumah yang lain mempertanyakan sumber bau tersebut. Demikianlah bila arah angin sedang tidak bersahabat… x)
Sunday, November 23, 2014
by Andito
11:54 AM
| Hasil ayakan pupuk padat dan sisa pupuk yang dimasukkan kembali ke dalam komposter |
| Pupuk cair dan pupuk padat |
Melihat komposter yang mulai penuh, maka hari ini kembali aku memanen pupuk padat dan cair. Berdasarkan ukuran di tempat penampung, kudapat sekitar 1,25 liter pupuk cair hari ini. Sedangkan pupuk padatnya cukup banyak. Pemanenan dilakukan setelah mengayak puput padat yang telah diangin-angin pada panen sebelumnya.
Salah satu yang kuamati dari pupuk padat yang terpanen hari ini adalah munculnya serat-serat putih di dalamnya. Lalu aku teringat Mbak Wilda yang menanyakan apakah muncul jamur berwarna putih di pupuk padat yang dipanen. Kala itu aku menggunakan serbuk gergaji sebagai pengganti penggembur yang habis.
Mungkin inilah jamur putih yang dimaksud Mbak Wilda. Jumlahnya hanya sedikit, tidak mendominasi pupuk padatnya. Namun satu hal yang cukup terasa, yaitu bau tak sedap yang muncul. Sangking terasanya, sampai Nur istriku menyampaikan bahwa bau sampahnya masuk ke dalam rumah. Karena aku berada di dekat komposter terus, aku tidak menyangka bahwa baunya sudah beredar sejauh itu… xp
Friday, November 14, 2014
by Andito
10:42 AM
Pagi ini, kembali aku memanen pupuk cair dan padat dari komposter. Hasilnya, ada sekitar 1 liter pupuk cair berwarna hitam kegelapan sebagaimana biasa, juga sekitar 2 ember pupuk padat yang akan diangin-angin terlebih dahulu.
Dari hasil pupuk padat yang dipanen hari ini, ada sebagian yang kurang menghitam sebagaimana biasanya. Lalu tercium aroma serbuk gergaji yang cukup kuat. Mungkin karena kualitas penyerapan dari serbuk gergaji itu kurang optimal, sehingga proses pembusukannya juga tidak sebaik bila menggunakan penggembur yang bertekstur lebih halus.
Dan karena sudah mulai musim hujan, saat turun deras beberapa hari yang lalu, ternyata membasahi pupuk kering yang sedang diangin-angin dari panen sebelumnya. Jadilah hasil ayakan pupuk padat kali ini tidak terlalu banyak. Dan sisa pupuk padat kembali diberi mikroba dan penggembur, lalu dimasukkan kembali ke dalam komposter.
Saat salah satu teman datang melihat komposter, ia melihat bahwa tidak ada bau di sekitar komposter dan pupuk padat yang sedang diangin-angin. “Hanya seperti bau tanah saja ya.” ucapnya. Dan memang demikian. Bila kadar air dijaga dengan baik dan proses pengolahan sampah tersebut dilakukan dengan tahapan yang benar, hasilnya akan baik dan tidak bau ... :)
Tuesday, November 11, 2014
by Andito
12:30 PM
Pagi ini, aku kembali mengayak pupuk padat yang sudah kubiarkan di udara terbuka selama sekitar 5 hari. Dan demikianlah hasilnya. Di sebelah kiri adalah hasil ayakan pupuk padat, sedangkan di sebelah kanan adalah sisa ayakan yang masih kasar, yang akan dimasukkan lagi ke dalam komposter.
Jumlahnya sisa ayakannya terlihat cukup banyak ya? Begitulah, dari pengalaman beberapa kali panen, terlihat bahwa materi sampah dapur seperti daun pisang, potongan bonggol jagung dan tulang ayam bagian paha-lah yang cukup banyak terlihat di dalam sisa ayakan pupuk padat.
Berdasarkan pengamatan itu, agar komposter tidak cepat penuh, aku mulai memisahkan daun pisang sebagai bagian dari sampah dapur yang masuk ke dalam komposter. Sampah daun pisang kumasukkan ke dalam tumpukan sampah daun-daun kering yang akan menjadi kompos di halaman sebelah rumah.
Sunday, November 2, 2014
by Andito
12:38 PM
Hari ini, aku kembali memanen pupuk cair dan pupuk padat dari komposter rumah tanggaku. Untuk pupuk cair, hari ini didapatkan sekitar 1,2 liter. Sedangkan untuk pupuk yang sudah diaerasi, ada sekitar 500 ml.
Apa itu aerasi? Dari petunjuk yang diberikan Mbak Wilda, aerasi adalah proses pelepasan bau yang tersisa dari pupuk cair yang sudah dipanen. Pupuk cair yang baru dipanen biasanya masih meninggalkan bau gas yang cukup tajam bila dihirup dari jarak sekitar 5-10 cm dari permukaan cairan. Setelah diaerasi dengan cara diletakkan dalam wadah yang tidak tertutup rapat selama 3-4 hari, bau tersebut bisa menjadi hilang sama sekali. Dan pupuk yang tidak berbau itulah yang sudah layak untuk dikemas di dalam botol. Tinggal teknik mengukur ppm saja yang belum dapat diaplikasikan, karena belum punya alatnya… x)
Sebelum memanen pupuk padat hari ini, aku menyaring dahulu hasil panen yang sebelumnya, yang telah kuletakkan di udara terbuka selama sekitar 4 hari. Sisa ayakan yang kasar kumasukan kembali ke dalam komposter, sedangkan hasil ayakan langsung kugunakan untuk tambahan nutrisi media tanam bagi bibit-bibit melon yang sudah pecah hari ini.
Friday, October 31, 2014
by Andito
12:36 PM
Serbuk penggembur (bulking agent) merupakan salah satu komponen penting dalam mengolah sampah rumah tangga karena berperan sebagai pengendali kadar air. Kadar air yang berlebih dapat mengakibatkan olahan sampah rumah tangga menjadi lebih bau dan berbelatung lebih banyak. Oleh karena itu, salah satu tips mengatasi bau dan belatung di dalam komposter adalah dengan menaburkan penggembur untuk mengendalikan kadar air.
Tanpa terasa, sudah sebulan lebih aku mengolah sampah rumah tanggaku. Dan dapat dikatakan aku masih bersemangat untuk mencacah dan mengolah sampah-sampah dapur karena tak lagi membuat tumpukan sampah yang menimbulkan bau di bak sampah depan rumah, selain saat ini memanen pupuk cair dan pupuk padat sudah menjadi bagian dari keseharianku.
Sedikit masalah tiba karena estimasi yang kurang tepat dalam mempersiapkan penggembur yang sudah hampir habis. Beberapa hari yang lalu, aku sudah memesan kepada Mbak Wilda. Namun hingga hari ini, barang pesananku belum juga tiba, sedangkan
Sungguh aku memahami kegiatan Mbak Wilda yang niscaya sangat sibuk di dalam menggerakkan bisnisnya. Kehadiran dan pendampingan yang intensif menjadi penting, karena niscaya tak mudah merubah paradigma dalam mengurusi sampah dari sesuatu yang dianggap tak bernilai menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual bila diperlakukan dengan benar. Maka bila pesananku yang kabarnya ingin diantarkan Mbak Wilda di antara perjalanan dari rumah menuju kantornya belum juga tiba, sungguh aku dapat memahami kondisinya… :)
Tuesday, October 28, 2014
by Andito
12:35 PM
Dengan mulai penuhnya komposter, maka sepertinya hari-hari ke depan akan diisi juga dengan memanen pupuk padat dari komposter nih. Sebagaimana hari ini, setelah menyiapkan saringan pupuk buatan sendiri yang terbuat dari kawat ayak pasir dan reng kayu, aku kembali memanen pupuk padat untuk yang kedua kalinya.
Karena peralatannya sudah lebih siap, kali ini aku lebih banyak mengambil pupuk padat dari bagian bawah komposter, sedapat-dapatnya sampai ke sisi terdalam dari komposter. Karena padatnya sampah dapur, tak membuat sampah-sampah yang di atasnya jadi rubuh saat aku mengambil bagian bawahnya.
Friday, October 24, 2014
by Andito
12:32 PM
Akhirnya, komposterku penuh juga dengan sampah dapur yang sudah diolah. Maka inilah hari yang ditunggu-tunggu, yaitu memanen pupuk padat pertama.
Saat pintu komposter dibuka, terlihatlah sampah dapur yang dimasukkan sekitar sebulan yang lalu yang telah berwarna kehitaman. Dan dari sanalah aku baru melihat bahwa hasil pupuk padat dari komposterku itu masih memiliki ukuran cacahan yang cukup besar. Masih ada tulang-tulang ayam dan potongan-potongan daun yang belum terurai.
Dari sanalah aku melihat bahwa untuk panen pupuk padat berikutnya, ada beberapa alat yang harus kupersiapkan, yaitu saringan yang lebih besar (yang harus kubuat khusus dengan kawat jaring), gunting untuk mencacah lagi sampah-sampah yang berukuran besar, juga martil untuk menghancurkan bonggol-bonggol jagung atau tulang-tulang yang masih keras. Demikianlah pada panen yang berikutnya, aku sudah akan lebih siap :)
Maka hasil panen pupuk padat hari ini hanya sedikit saja. Dan semua itu langsung kutaburkan ke dalam tanah dekat pohon mangga, dengan harapan pohon mangga tersebut akan berbuah lebih baik pada musimnya nanti. Amin ^^
Subscribe to:
Posts (Atom)























