Top Ad 728x90


Wednesday, June 18, 2025

100 Juta per Desa untuk Pengolahan Sampah?

by

40% komposisi sampah di TPS atau TPA adalah sisa makanan atau sampah organik.

Maka dari 100 juta per desa yang dialokasikan, sangat wajar bila 40 juta khusus dialokasikan untuk membangun instalasi pengolahan sisa organik. 

25 juta untuk bangunan pengolah, 5 juta untuk alat pencacah sisa organik, 10 juta untuk perlengkapan operasional pendukung kegiatan. Metode menggunakan maggot BSF yang terbukti efektif dan efisien dalam menangani sampah organik. 

Selama dana ini sampai apa adanya, niscaya akan dapat dimanfaatkan optimal dan segera berdampak mengurangi sampah bila serius memilah dan mengolah sisa organiknya. 

Karena bagaimana mau memanfaatkan sisa anorganik kalau masih tercampur organik? 

Yuk bersama-sama mengatasi tantangan sampah dari sumbernya. Karena sehebat apa pun metode pengolahan sampah di TPA, akan lebih membantu dan baik untuk lingkungan bila kita semua bersama-sama memilah dan mengolah sisa organik kita secara mandiri 🙏🌱🇲🇨

Saturday, May 17, 2025

Punya Lahan dan Bingung Mau Ditanami Apa?

by

Bila Anda punya lahan dan ingin melakukan integrated farming, silakan pertimbangkan untuk memiliki area pengolahan sisa organik menggunakan maggot BSF. 

Tidak perlu lahan luas, karena bisa dibuat secara bersusun. 2 x 2 meter pun juga cukup. 

Tapi kalau lahannya di atas 1 hektar, alokasikan setidaknya 50 m2 lah untuk maggot BSF. 

Niscaya akan bermanfaat mengolah sisa organik rumah tangga maupun sisa organik pertanian Anda.

Dengan adanya maggot BSF di rumah merupakan salah satu aksi nyata turut serta mengurangi masalah tumpukan sampah di TPS atau TPA. Ditambah lagi memiliki sumber pupuk alami dan dekat serta jelas kualitas organiknya.

Jadi, sudah mengompos hari ini? 😃👍🌱

Friday, March 14, 2025

Pemerintah Resmi Melarang Sistem Open Dumping, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

by

Tanggal 13 Maret 2025 yang lalu, Kementerian LH sudah mengumumkan akan melarang praktik open dumping di Indonesia. 343 TPA akan ditindak sesuai dengan tingkat pelanggaran dan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. 

Membutuhkan waktu 3-6 bulan untuk membangun sistem sanitary landfill dan hal itu menjadi tanggung jawab bupati, gubernur dan walikota. Sebuah amanah dari undang-undang di tahun 2008, tak berhasil dilaksanakan di tahun 2013, dan baru akan diseriusi di tahun 2025 ini. Bravo pemerintah Indonesia dan orang-orang yang mendapat kepercayaan untuk menjabat di dalamnya!!! 

Sebagai bagian dari warga yang kebetulan muncul kesadaran memilah dan mengolah sampah organik sejak tahun 2014, saya dan keluarga di rumah praktis sudah tidak mengeluarkan sampah organik lagi ke TPS atau TPA, walau tetap dipungut retribusi yang sama di lingkungan. Tak apa, karena saya tetap mengeluarkan sampah residu sekitar 3-5 kantong per minggu. Sudah jauh lebih sedikit dibandingkan 2-3 kantong per hari sebelum memilah dan mengolah sampah organik secara mandiri. 

Sepakat dengan yang disampaikan pak Menteri LH saat konferensi pers 13 Maret 2025 yang lalu, bahwa upaya ini perlu dilakukan secara voluntary oleh masyarakat dan dunia usaha serta secara mandatori oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pejabat-pejabat terkait. 

Jadi, bagi para pejabat, terkhusus bang Menko Agus Yudhoyono yang mendapat amanah khusus dari pak Presiden untuk turut membantu menangani masalah sampah di Indonesia, semoga rencana kerjanya dapat tereksekusi secara menyeluruh, bukan sekadar populis dan proyekis, namun mengena pada substansi, membangun sistem pengolahan sampah organik mandiri sejak dari tingkat RW, RT bahkan rumah tangga, diperkuat dengan memasifkan pengolahan sampah organik di pasar, sekolah, kantor dan fasilitas publik lainnya.

Bagi warga dan rakyat sebagaimana saya di mana pun berada, yuk dukung pemerintah menjaga lingkungan kita dengan cara mulai memilah dan mengolah sampah organik secara mandiri. Karena proses peralihan dari open dumping menuju sanitary landfill maupun mengaktifkan TPS3R yang mangkrak karena minim edukasi atau hanya agenda proyek semata, hanya bisa berjalan lebih lancar bila kita sebagai penghasil sampah bekerjasama membantu pemerintah menghadirkan Indonesia yang lebih bersih, lebih berbudaya dan selaras dengan alam. 

Karena sampah adalah tanggung jawab dari penghasil sampah. Semakin besar sampah yang dihasilkan, semakin perlu berkontribusi besar dalam penanganannya. Dan saya optimis Indonesia bisa mengelola sampahnya dengan lebih baik sehingga lebih siap untuk melangkah maju menjadi negara yang kuat dan berbudaya.

Karena kalau di rumah saya saja bisa, niscaya satu negara bisa melakukannya 🙏🌱🇲🇨

Keterangan gambar: Sekitar 4 kilogram sisa organik yang saya kompos menggunakan maggot BSF hari ini. 


Saturday, March 8, 2025

Pastikan Anggarannya Sesuai Peruntukannya

by

Pastikan anggarannya memang untuk penanganan sampah ya para pejabat berwenang semua.

Alokasikan juga untuk edukasi pemilahan dan pengolahan sampah organik di sumber. Karena sebanyak apa pun lahan untuk menimbun sampah, niscaya akan selalu kurang selama metodenya adalah open dumping tanpa memikirkan kelanjutannya.

Tercampurnya sampah organik dengan sampah anorganik itulah yang menjadi penyebab masalah dan susahnya penanganan sampah selama ini.

🙏🌱

Wednesday, March 5, 2025

Menghidupkan Instalasi Hidroponik di Cijantung

by

#BersyukurAdalah mendapat kesempatan dan kepercayaan untuk menghidupkan kembali instalasi hidroponik yang kabarnya dibuat pada saat Covid, sempat berjalan beberapa saat lalu tak terfungsikan lagi selama beberapa tahun. Sebuah instalasi ukuran jumbo dengan kapasitas 350 x 4 lubang, yang diputuskan untuk menghidupkan dahulu satu tingkat paling atas karena paling banyak terkena sinar matahari agar hasil tanaman optimal. 

Dengan 350 lubang tanam saja, apabila 1 kilo tanaman dihasilkan dari 5 lubang tanam, maka instalasi ini berpotensi menghasilkan 70 kilogram sayuran per bulannya. 


Asyik kan? Lahan terbatas, namun bisa menghasilkan sayuran sedemikian banyak untuk bisa dikonsumsi bersama keluarga dan kerabat. 

Jadi, punya lahan tak terfungsikan yang terpapar sinar matahari setidaknya 4 jam, memasang instalasi hidroponik di sana sepertinya merupakan ide yang menarik untuk bersama-sama membangun ketahanan dan kemandirian pangan dimulai dari rumah atau lingkungan kita sendiri.

Monday, March 3, 2025

Apa yang Bisa Dilakukan dengan Sisa MBG?

by

Semoga pihak sekolah maupun penyelenggara MBG turut memikirkan pengolahan sisa makanan yang tidak terkonsumsi. Terutama bila sampai tidak termakan seperti ini.

Yuk mulai tanamkan pola pikir bahwa TPS atau TPA bukan untuk menampung sisa organik.

Yuk mulai pilah dan olah sampah organik secara mandiri, selesaikan di lingkungan rumah, kantor, sekolah atau tempat usaha masing-masing demi lingkungan yang lebih sehat dan lestari.

🙏🌱

Sunday, March 2, 2025

Perjalanan Terasa Masih Panjang, Namun ...

by

Perjalanan terasa masih panjang, namun perlu kita mulai bersama.

Kalau setiap rumah, sekolah, kantor dan tempat usaha mulai memilah sampah organik dan mengelolanya secara mandiri, niscaya sampah tak terkelola dapat kita kurangi bersama.

Tentu tidak ada yang mau kan TPS atau TPA-nya mendekat ke tempat tinggal kita, bukan?

Yuk kita atasi bersama.

Untuk pengolahan sampah organik, ada maggot BSF yang terbukti lebih cepat mengolah sampah organik sehingga semakin minim bau dalam prosesnya.

Mau belajar? 😉👍🌱

Friday, November 8, 2024

Catatan setelah Mengikuti Kegiatan Sosialisasi Pengurangan Sampah Rumah Tangga, 8 November 2024

by



Berikut adalah catatan saya dari hasil mengikuti kegiatan Sosialiasi Pengurangan Sampah Rumah Tangga dan Pengelolaan Bank Sampah yang merupakan bagian dari program 100 hari Kementerian Lingkungan Hidup. Acara diadakan di Hotel Best Western, Jumat, 8 November 2024.

  • Sampah yang dihasilkan DKI Jakarta adalah 8.600 ton per hari. 86% ditumpuk begitu saja ke Bantargebang.
  • Setiap tahun, DKI Jakarta mengeluarkan dana 2 triliun untuk pembuangan sampah.
  • Indonesia masih impor sampah plastik karena plastik-plastik yang ada di Indonesia cenderung kotor dan tidak terpilah dari sampah organik sehingga tidak bisa masuk ke dalam industri sebagai bahan baku.
  • Target: 1 bank sampah per RW dan akan dilakukan peningkatan kapasitas bank sampah yang sudah aktif.
  • Tahun ini adalah tahun terakhir Indonesia mengimpor sampah plastik, oleh karena itu penyerapan bahan baku plastik melalui bank sampah perlu ditingkatkan.
  • Seluruh peraturan perundang-undangan terkait persampahan sudah tersedia, tinggal pelaksanaannya saja.
  • Ikut bersyukur menyimak cerita perkembangan Bank Sampah RW 05 Kelurahan Cipinang Besar Selatan dimana saya pernah menjadi nasabahnya.


Karena waktu terbatas, maka saya tidak berkesempatan untuk menyampaikan pertanyaan dan masukan kepada Direktur Pengurangan Sampah Ibu Vina Damayanti dan jajarannya. Oleh karena itu, aspirasi saya sampaikan dalam tulisan ini.



Apa program 100 hari Kementerian LH untuk penanganan sampah organik?

Dalam paparan sudah disampaikan dengan jelas bahkan berkali-kali kalau lebih dari 40% komposisi timbulan sampah terdiri dari sampah organik. Namun di dalam pemaparan program 100 hari lebih banyak berfokus kepada penanganan sampah anorganik yang jumlahnya lebih sedikit.

Saya penasaran dengan program 100 hari Kementerian LH apakah ada yang terkait dengan penanganan sampah organik. Karena apabila sampah organik terpilah dan terolah, maka niscaya penyerapan sampah anorganik akan menjadi lebih mudah.

Sebagai praktisi pemilahan dan pengolahan sampah organik sejak tahun 2014, saya menjadi bukti bagaimana timbulan sampah akan berkurang 40-80% akan terjadi bila melakukan pemilahan sampah organik dari sumber itu benar-benar bisa terjadi. Oleh karena itu, saya menunggu sosialisasi terkait dengan pengolahan sampah organik namun ternyata lebih berfokus kepada pengolahan sampah anorganik.


Menghadirkan sentra pengolahan sampah organik di setiap kelurahan

Sebagai praktisi pengolahan sampah organik, saya mengusulkan agar setiap kelurahan di DKI Jakarta memiliki sentra pengolahan sampah organik. Yang apabila sudah ada, diumumkan secara masif ke setiap RW agar bisa menjadi pengetahuan warga untuk belajar dan mengembangkan di RW, RT atau rumah masing-masing. Dengan adanya sentra pengolahan sampah organik, khususnya berbasis maggot BSF agar prosesnya dapat menjadi cepat, efektif dan minim bau, niscaya penyerapan sampah anorganik melalui bank sampah juga akan semakin masif peningkatannya.


Lebih banyak apresiasi (reward) daripada sanksi

Sanksi atau aturan yang mengancam jelas adalah sebuah tindakan yang tidak efektif sebagai solusi di dalam penanganan masalah sampah di masyarakat. Mengapa? Salah satunya karena tidak mudahnya melakukan pengawasan dengan kondisi teknologi dan kesadaran yang saat ini berkembang di Indonesia.

Oleh karena itu, saya mengusulkan agar pihak pemerintah meningkatkan program-program apresiasi terhadap anggota masyarakat yang sudah melakukan pemilahan dan pengolahan sampah organik, mengglorifikasinya melalui media sosial agar menjadi gerakan yang menginspirasi dan mau diikuti oleh masyarakat.


Menjadikan Kementerian LH dan jajarannya sebagai contoh pelaksanaan gaya hidup Zero Waste

Salah satu cara yang akan membuat proses sosialisasi menjadi efektif adalah dengan menjadi contoh. Apa yang disampaikan oleh Ibu Vina dan Bapak Asep melalui paparannya adalah sebuah hal normatif yang tentu baik adanya. Saya menyarankan untuk program sosialisasi berikutnya, Ibu Vina dan Pak Asep juga menyertakan foto aktivitas pemilahan sampah dan pengolahan sampah organik yang dilakukan di rumah masing-masing dan juga yang dilakukan di dalam lingkungan Kementerian LH. Sehingga apa yang disosialisasikan bukan hanya sekadar ide atau jargon, namun sudah dicontohkan secara nyata dan konsisten oleh Kementerian LH dan jajarannya. Dengan contoh dan aksi nyata, bukan hanya sekadar himbauan atau aksi pada saat seremoni belaka, niscaya program sosialisasi akan lebih membumi dan terasa bisa dilakukan.

Sebagaimana cerita perjalanan dan pengalaman Ibu Parkiyem dari RW 05 Bank Sampah Kelurahan Cipinang Besar Selatan menjadi bukti bahwa Bank Sampah yang konsisten dijalankan dengan semangat dan sepenuh hati, bahkan di saat belum ada dukungan dari pemerintah, ternyata bisa memberi dampak nyata dan menginspirasi kami sebagai penggerak sampah di RW kami masing-masing.



Menerapkan prinsip Zero Waste dalam acara sosialisasi

Acara sosialisasi yang saya ikuti pada hari ini diadakan di sebuah hotel dengan pelayanan hidangan prasmanan. Namun saya tidak melihat ada himbauan baik dari panitia maupun pembawa acara agar para peserta bisa menempatkan sampah-sampah sisa makanan maupun kertas pembungkus cemilan sesuai dengan jenisnya. Walaupun mungkin belum bisa 100% berjalan dengan efektif, namun kebiasaan menghadirkan tempat-tempat penampungan sisa konsumsi perlu diinisiasi oleh Kementerian LH dan jajarannya bila memang benar-benar ingin melakukan apa yang disebut sebagai sosialisasi. Karena teori yang bagus dan baik akan menjadi ‘omon-omon’ belaka tanpa praktik nyata, terkhusus oleh pihak dan instansi yang menyampaikan.  


Menggunakan teknologi untuk pemantauan dan apresiasi  

Sekiranya Kementerian LH berkenan untuk mengalokasikan sumber dayanya dalam mengembangkan aplikasi agar dapat melakukan pemantauan aktivitas dan apresiasi baik dari Bank Sampah maupun masyarakat yang bergerak secara aktif namun tidak pernah mendapat perhatian sebelumnya. Dengan adanya aplikasi yang responsif, maka pihak Kementerian LH dapat melihat aktivitas Bank Sampah maupun warga yang perlu mendapat dukungan dan menaikkannya ke media sosial agar menjadi inspirasi bagi semakin banyak masyarakat untuk bergerak bersama.


Mendorong (bahkan memaksa) pelaku industri HOREKA untuk memiliki pengolahan sisa organik secara mandiri

Usaha-usaha yang terkait langsung dengan penyediaan makanan bagi masyarakat seperti hotel, restoran dan kafe perlu diajak bahkan dipaksa untuk mengolah sisa organiknya secara mandiri. Semakin besar hotel, restoran atau kafe, maka semakin wajib untuk mengalokasikan sebagian dana operasionalnya untuk mengolah sampah organiknya secara mandiri.

Begitu pula kepada pihak pengelola pasar di Jakarta juga wajib mengalokasikan sumber dayanya untuk membangun area pengolahan sampah organik secara mandiri.

Karena bila pengolahan sampah organiknya menggunakan maggot BSF, lahan yang dibutuhkan tidaklah besar, dapat dibuat bertingkat dengan hasil olahan sisa organik yang cepat terurai dan berubah menjadi pupuk yang bermanfaat, maggotnya pun merupakan sumber protein bagi ternak yang bisa bermanfaat.



Demikian sedikit urun saran dari saya, praktisi pengolahan sampah organik secara rumah tangga sejak tahun 2014, yang saat ini dipercaya menjadi penggerak Bank Sampah di RW 09 Kelurahan Cipinang Muara. Siapa tahu bisa terbaca oleh Bapak Hanif Faisol Nurofiq sebagai Menteri Lingkungan Hidup. Setidaknya oleh mentor saya Ketua ASOBSI mbak Wilda Yanti.

Semoga siapa pun yang membaca tulisan ini ikut serta tergerak untuk dapat melakukan aksi nyata dalam mengatasi timbulan sampah yang dihasilkan di dalam kehidupan kita demi lingkungan yang lebih bersih dan lebih baik.

Salam hijau

Andito
#rumahhijaunet 




 

Wednesday, June 7, 2023

Pentingnya Segera Mengompos Saat Sampah Organik Masih Segar

by

Dalam memilah dan mengolah sampah, apalagi secara mandiri, konsistensi adalah koentji. Dan memastikan bahwa sisa bahan organik yang diolah dalam keadaan masih segar dapat menjadi salah satu faktor pendukung kesuksesan dalam melakukan proses komposting dari sisi proses juga hasilnya. 

Jadi, sedapat mungkin alokasikan waktu untuk mengompos setiap hari ya sahabat semua. Ibarat BAB, kalau bisa tidak ditahan atau ditunda demi kebaikan tubuh kita. 

Video Youtube:

Ada yang mau ditanya seputar komposting atau urban farming? Silakan sampaikan di kolom komentar ya.

Mau belajar komposting secara online? Silakan mendaftar melalui link berikut: 

bit.ly/DaftarGrupWAKomposting 

Setelah mendaftar, akan saya kontak agar dapat mengikuti batch selanjutnya yang akan dibuka. 

Semoga bumi tempat tinggal kita semakin bersih 🙏👍🌱

#rumahhijaunet 
#komposting 

Potongan Nanas untuk Maggot BSF

by
#BersyukurAdalah bisa kembali melakukan #toebang atau #siaranngompos. Selain untuk menambah koleksi dokumentasi, diharapkan kehadiran video-video terkait komposting ini bisa memberi inspirasi dan semangat tersendiri bagi siapa pun yang mulai tergerak dan mau melakukan sesuatu untuk lingkungan hidup yang lebih baik. 

Yuk kita mulai dari diri kita sendiri, yuk kita mulai dari memilah sampah organik dan mengolahnya secara mandiri maupun bersama. 


Di episode 6 Juni 2023 ini, saya bersyukur mendapatkan limpahan potongan mata nanas dari tukang nanas madu langganan. Lumayan banget untuk menambah variasi nutrisi bagi para maggot di rumah. 

Ada yang mau ditanya seputar komposting atau urban farming? Silakan sampaikan di kolom komentar ya.

Mau belajar komposting secara online? Silakan mendaftar melalui link berikut: 

bit.ly/DaftarGrupWAKomposting 

Setelah mendaftar, akan saya kontak agar dapat mengikuti batch selanjutnya yang akan dibuka. 

Semoga bumi tempat tinggal kita semakin bersih 🙏👍🌱

#rumahhijaunet 
#komposting

Toebang Tayang Kembali

by
Sahabat semua, kemarin, 5 Juni, diperingati sebagai hari Lingkungan Hidup Sedunia. Semoga apa pun bidang karya yang kita tekuni, kita dapat turut menjaga kelestarian lingkungan dengan mengalokasikan waktu untuk itu di dalam keseharian kita. 

Dan saya mengajak sahabat semua yang membaca tulisan ini untuk mau memilah dan mengolah sisa bahan organiknya secara mandiri maupun bersama-sama. 

Bagi yang sudah melakukan, maka lanjutkan. Karena perkara sampah niscaya bukan sesuatu yang cukup dikerjakan satu hari dengan penuh glorifikasi, melainkan dilakukan secara konsisten terus-menerus setiap hari dengan sepenuh hati. 

Dan karena mengompos adalah sebuah perjalanan panjang, maka perkenankanlah saya menjadi teman dan sahabat seperjalanan sahabat semua dalam melakukan komposting di rumah dan lingkungan masing-masing. 

Tahun ini adalah tahun ke-9 saya melakukan komposting, dihitung sejak tahun 2014 ketika mbak @wildajourney datang ke rumah membawakan komposter untuk mengolah sampah organik dapur saya. Artinya sudah 9 tahun saya dan keluarga berupaya untuk tidak membuang sisa bahan organik dapur yang akan berakhir di TPS atau TPA. Dan walaupun saat ini di lingkungan saya masih sendirian melakukan hal ini, ternyata upaya ini bisa dilakukan. 

Oleh karena itu, mulai hari ini dan seterusnya, saya meniatkan untuk kembali hadir dalam toebang atau siaran ngompos yang akan saya siarkan secara live melalui platform media sosial yang tersedia. Bisa live IG di @wahyuandito, TikTok live di @rumahhijaunet, Youtube Live di Channel Rumahhijaunet maupun media berbagi lainnya. 

Bagi sahabat yang mau ikut hadir, menambah wawasan dan berbagi cerita seputar keseruan dalam komposting, silakan mampir saat live dilaksanakan. 

Waktunya adalah setiap hari antara pukul 7-12 siang. Jadi kalau ada notifikasi saya sedang siaran langsung di jam tersebut, niscaya isinya adalah siaran ngompos atau toebang. Informasinya akan saya unggah di story dan medsos lainnya beberapa saat sebelum live dilaksanakan.

Dan seperti siaran ngompos sebelumnya, saya akan mengompos sambil membahas pertanyaan atau tema menarik seputar komposting dan urban farming.

Rekaman-rekaman siarannya akan saya simpan di channel Youtube Rumahhijaunet (bit.ly/YoutubeRumahHijaunet).

Bila sahabat ada yang mau ditanyakan, bisa disampaikan di kolom komentar, DM, inbox atau japri WA saya bila tahu nomornya. 

Jadi, sampai ketemu mulai hari ini setiap hari di Siaran Ngompos atau Toebang ya 😉👍

Semoga bumi ini akan terus dan semakin bersih 🙏🌱 

#rumahhijaunet
#siaranngompos 
#toebang
#komposting

Thursday, January 12, 2023

APA PERBEDAAN MAGGOT DI KOMPOSTER DAN DI MAGOBOX? (Catatan Maggot Rumahhijaunet Day 6)

by

Di hari ke-6 perjalanan bersama Magobox semakin terlihat jumlah maggot yang semakin banyak dan semakin membesar ukurannya. 

Sambil kembali mengompos sisa bahan organik hari ini, akan dibahas tanggapan dari pertanyaan kak Rhyna via komen IG mengenai perbedaan maggot di komposter dan maggot di Magobox ini. 

Jadi, bisa saja maggot atau belatung yang hadir di komposter adalah maggot yang sama dengan yang ada di Magobox. Hanya saja yang satu lahir dengan cara alamiah, yang satu memang disengaja untuk budidaya. 

Begitu pula hasil dari proses kompostingnya juga berbeda. Komposter bisa menghasilkan pupuk cair dan pupuk padat, sedangkan di Magobox bisa dapat pupuk padat baik dari sisa pengomposan bahan organik maupun kasgot (bekas maggot). Dan maggot-maggot sendiri juga bisa dimanfaatkan sebagai makanan ternak. 

Untuk jawaban selengkapnya, bisa ke Youtube Rumahhijaunet ya.

Semoga bermanfaat 😃👍🌱

#rumahhijaunet 
#almagot
#magobox
#catatanmaggotRH
#Day6
#komposting
#maggot
#maggotBSF

Top Ad 728x90