Top Ad 728x90


Thursday, July 2, 2020

Sekali Pakai vs Berkali Pakai

by

Sahabat, tahukah Anda bahwa kantong plastik diciptakan pada mulanya untuk menyelamatkan bumi?
Ketika manusia bertambah banyak dan kebutuhan untuk membawa material dari satu tempat ke tempat lainnya juga meningkat, maka kantong kertas menjadi salah satu alat untuk membantu hal tersebut.
Kertas yang terbuat dari pohon pun semakin banyak diproduksi dan dibutuhkan. Artinya, semakin banyak pohon yang ditebang untuk kebutuhan membuat kantong kertas yang cenderung tidak tahan lama karena akan rusak bila terkena air.
Maka dicarilah solusi agar pohon-pohon yang menjadi penyedia oksigen dan makanan bagi manusia tidak berkurang lebih banyak lagi. Dan ditemukanlah kantong plastik yang pertama kali dibuat oleh ilmuwan asal Swedia, Sten Gustaf Thulin, yang penemuannya dipatenkan pada tahun 1965.
Mengapa plastik? Karena plastik tahan air dan tahan lama, sehingga kantong tersebut bisa dipakai berkali-kali.
50 tahun setelah penemuan tersebut, ternyata pola keseharian manusia yang cenderung mencari kepraktisan mulai berdampak terhadap lingkungan. Plastik yang sejatinya untuk dipakai berkali-kali kini menjadi lebih banyak hanya untuk sekali pakai. Apalagi bila sudah terkena air, kuah makanan, saos, daging, bahkan tidak basah sekalipun juga dibuang karena ukurannya yang kecil dan tidak mudah untuk dipakai ulang lagi.
Sampah plastik yang tidak mudah terurai kini mulai memenuhi bumi. Dikabarkan hewan-hewan laut yang mati tercekik karena terjerat atau menelan plastik menjadi perhatian para pemerhati lingkungan. Begitu pula tumpukan sampah yang semakin menjadi tantangan karena pola keseharian yang masih cenderung tidak memilah sampah dari sumbernya.
Melalui catatan ini, penulis mengajak kepada sahabat semua yang membaca untuk mulai mempertimbangkan kemasan belanja sekali pakai apa yang bisa kita kurangi hari ini. Kalau kita tidak bisa mencegah derasnya produksi plastik dan terbuangnya sampah-sampah tersebut ke lautan, setidaknya kita bisa memulai dari diri kita dan keseharian kita sendiri.
Bisa kita mulai dengan membawa wadah berkali pakai untuk pembelanjaan yang plastiknya cenderung akan dibuang karena basah bila dipakai, seperti untuk berbelanja daging ayam, daging sapi, air kelapa, tahu dan bumbu racik jadi.
Karena mengurangi satu lembar plastik sekali pakai sehari mungkin terlihat sederhana. Namun bila bisa kita lakukan bersama-sama, niscaya bumi kita akan berbahagia.
Karena bumi ini adalah tempat tinggal kita. Kalau bukan kita yang membantu menjaganya, siapa lagi?
Cipinang Muara, 2 Juli 2020
#urbanfarmingwisdoms
==============


Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:

Tuesday, June 30, 2020

AWALNYA

by
Semua perjalanan niscaya memiliki awalnya, langkah pertama beserta hal-hal yang mendukung keputusan itu terjadi.

Bila aku merenungi, kapan ya kiranya semangat atau dorongan untuk berurban farming ini bermula?

Sebuah peristiwa yang terjadi pada suatu siang di kelas 3 SMA beberapa tahun yang lalu sepertinya itulah yang menjadi awalnya.

Siang itu, guru kimia SMA-ku menghentak papan tulis saat melihat kami para siswanya sudah mulai tidak konsentrasi mendengarkan penjelasannya. Saat itu hari sudah semakin siang, perut mulai keroncongan dan kelopak mata semakin lama terasa semakin berat untuk diangkat.

"Hei, siswa! Coba lihat! Kalian pasti sudah tidak ada yang konsentrasi mendengarkan apa penjelasan Bapak, kan?! Pasti pikiran kalian sedang membayangkan, 'Nanti makan siang pakai lauk apa ya?' Ya kan?!" Tidak ada satu pun di antara kami yang membantah, karena memang seperti itulah kejadiannya.

Kebetulan SMA tempat aku menuntut ilmu adalah sekolah berasrama yang menerapkan prinsip semi militer, sehingga makan bersama di dalam sebuah ruangan bersama sudah menjadi bagian dari keseharian kami. 

"Nah, kalau mengurus negara juga begitu. Pastikan rakyatnya kenyang dulu, baru setelah itu kalian mau ajak ngomong teknologi, politik, apa pun, pasti akan lebih didengar."

Ucapan guru kimiaku itu seperti memberikan sebuah obor di dalam kegelapan malam, jawaban di dalam kegalauan akan memilih jurusan apa saat lulus SMA nanti.

Ya! Aku ingin jadi petani! Aku ingin membantu Indonesia kembali menjadi negara yang mandiri pangan, mampu mengoptimalkan potensi agrarisnya sehingga tidak perlu lagi mengimpor bahan makanan dari negara lain, bahkan membantu negara lain karena kelebihan bahan makanan yang dimiliki.

Ya! Aku ingin jadi petani!

Dari sanalah semua bermula 🙏🌱

Cipinang Muara, 30 Juni 2020

#motivarmer
#urbanfarmingwisdoms

==================

Untuk sharing dan diskusi seputar komposting dan urban farming, silakan melalui link-link berikut:
bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet
bit.ly/YoutubeRumahHijaunet

Monday, June 29, 2020

Dimulai

by
DIMULAI

Hari ini perjalanan itu dimulai. Perjalanan untuk mulai merenungkan, mengkristalkan dan menghadirkan hikmah-hikmah yang kuperoleh di dalam keseharian dalam melakukan komposting dan urban farming.

5 tahun menjalani komposting dan urban farming membawaku melihat bahwa betapa luar biasanya alam semesta dengan segenap hukumnya. Dan sebagai manusia, kita memiliki pilihan untuk berada selaras atau berseberangan dengannya. Tentu sebagai manusia kita diberikan kebebasan untuk menentukan pilihan, namun kita tidak bebas untuk memilih konsekuensi dari pilihan tersebut.

Semoga tulisan ini membawa manfaat, setidaknya bagi diriku yang ingin menyelaraskan diri dengan alam semesta, yang ingin menjadi bagian darinya melalui apa-apa yang bisa kulakukan setiap harinya.

Ya, perjalanan ini baru saja dimulai. Kuhaturkan terima kasih kepada sahabat-sahabat yang berkenan membersamainya.

Semoga bumi semakin berbahagia 😊🙏🌱

Cipinang Muara, 29 Juni 2020

#motivarmer
#urbanfarmingwisdoms

bit.ly/GrupFBSahabatRumahHijau
bit.ly/PodcastRumahHijaunet

Tuesday, January 21, 2020

Berawal dari Tokopedia

by
Berawal dari Tokopedia, tempat memajang beberapa komposter buatan saya, terjadilah pertemuan bersejarah hari ini. 

Ya, komposter saya di Tokopedia memang hanya display. Tidak bisa langsung dipesan karena perlu lewat preorder. 

Proses pembuatannya sekitar 2 minggu di dalam batch yang sudah ditetapkan, sebagaimana batch#5 yang akan dibuka untuk pembuatan di minggu pertama dan kedua Februari 2020 ini. 

Mengapa sampai 2 minggu? Karena dikerjakan bersama dengan kegiatan2 usaha dan keseharian lainnya. Maka kalau komposternya jadi lebih cepat, akan segera dikabari untuk pengantaran atau penjemputannya bila ingin diambil sendiri. 

"Saya pikir Mas Andito ambil dari tempat lain." 😀

"Karena itu saya beri kata 'homemade' dan 'dibuat sepenuh hati', karena memang dihasilkan melalui tangan saya sendiri." 😊

Selamat memilah dan mengolah sampah rumah tangganya ya Mas Taufik. Sungguh bersyukur karena bertambah lagi warga Jatiwaringin yang mau melakukan langkah sederhana untuk membantu lingkungan kita menjadi lebih bersih dan lebih sehat 😃🙏🌱

Dan ternyata obrolan kita malah lebih banyak membahas tentang pendidikan anak ya. Karena memilah dan mengolah sampah juga merupakan langkah untuk mempersiapkan bumi yang lebih bersih untuk anak2 kita. 

Jadi, sahabat2 semua, mau ikut bergabung bersama kami memilah dan mengolah sampah rumah tangganya? 😃👍🌱

#rumahhijaunet
#urbanfarming 
#komposter
#komposting
#jatiwaringin
#gayahidupsehat
#healthylifestyle 

Tautan komposter Rumah Hijau di Tokopedia:
https://tokopedia.link/t6tejylRp3

Friday, January 3, 2020

Kewajiban Terhadap Alam

by

KEWAJIBAN TERHADAP ALAM 

Baru saja selesai membaca postingan Mbak Wilda Yanti di linimasa FB. Di antara tulisannya terdapat tulisan 'kewajiban terhadap alam'. 

Sebagai individu yang diberikan kemampuan berpikir, merenungi, merespon dan bertindak terhadap setiap peristiwa yang dihadirkan, apakah kiranya kewajiban terhadap alam yang bisa kita lakukan, khususnya bagi yang tinggal di perkotaan? 
Niscaya banyak bisa kita lakukan. Sesederhana mulai menyiapkan dua tempat sampah di dapur, satu untuk organik, satu untuk anorganik. 
Sesederhana mulai memikirkan metode mengolah sampah rumah tangga kita. Karena sampah yang terpilah akan memudahkan untuk diolah, baik organik dan anorganik. 
Dan saat sampah2 organik itu berkompos bersama mikroba, lalu menjelma menjadi unsur2 yang bisa menyuburkan tanah, lalu dari tanah itu bertumbuhan dan berkembangan tanaman2 yang bermanfaat yang bisa kita konsumsi kembali, apakah sudah bisa masuk ke dalam kategori melaksanaan kewajiban terhadap alam? 

Sesederhana mulai mengurangi pemakaian kemasan dan kantong sekali pakai. 

Sesederhana apa pun langkah kita, semoga alam berkenan menerima apa yang kita lakukan tidak hanya sebagai sekadar kewajiban, namun memang karena cinta dan kepedulian kita kepada alam, tempat kita tinggal, tempat kita bernaung, tempat kita bertumbuh dan menundukkan hati untuk bersyukur di hadapan Kuasa-Nya. 

Karena itu saya bersyukur ketika sampai di layar gawai saya ada sahabat yang tergerak untuk mempresentasikan kepada RT-RW-nya untuk mulai membuat lubang organik di lingkungannya. 

Semoga semakin banyak yang melakukan langkah sederhana karena bukan hanya sekadar kewajiban, namun karena kecintaan dan kepedulian kita kepada alam. 
Sungguh alam tidaklah murka, alam tidaklah marah. Bahkan alam sedang mencurahkan rezeki yang tak terhingga besarnya. Hanya saja kita yang belum mempersiapkan diri untuk menerima rezeki tersebut. 

Alam sudah menjalankan kewajibannya memberikan berkahnya kepada kita. Sudahkah kita memberikan kembali kewajiban kita kepadanya? 

Cipinang Muara, 3 Januari 2020

#selfreminder
#catatanharianAndito 


Saturday, November 9, 2019

Komposter untuk Dua Sahabat Sekomplek

by


#BersyukurAdalah bisa memberikan komposter kepada dua sahabat komplek yang sudah PO di batch pertama.



Sahabat2 yang terinspirasi dan tergerak untuk turut memilah dan mengolah sampah rumah tangganya.

Semoga komposter ini dapat menjadi solusi dan langkah bersama untuk mewujudkan Indonesia yang lebih bersih, dimulai dari rumah kita sendiri, dimulai dari komplek kita sendiri.



Ingin memiliki komposter seperti ini di rumah Anda? Silakan komen atau japri ya.

Semangat!! 🤩💪💪🌱
#komposter
#komposting
#rumahhijaunet
#pilahsampahdarirumah  @ Komplek PWI

Friday, November 8, 2019

Vlog Rumah Hijau - Serunya Suasana Memperbaiki Instalasi Hidroponik di SDIT Taufiqurrahman Bekasi

by


Selalu seru dan menyenangkan bila berbagi seputar urban farming di lingkungan pendidikan seperti sekolah.

Binar mata anak2 maupun para gurunya yang begitu antusias membantu atau penasaran mengapa benih2 yang sudah disemai tidak kunjung tumbuh, membuat saya begitu bersemangat ingin segera menghidupkan lagi kedua instalasi hidroponik yang pernah saya bangun pada April 2017 ini.

Dan semakin seru karena anak2 di usia SD ini sudah sadar akan hadirnya vlog sebagai media berbagi. Bahkan ada di antara mereka yang sudah punya akun Instagram sendiri dan meminta saya folback mereka 😁

Di SDIT Taufiqurrahman ini, salah satu tantangannya dalam berhidroponik sepertinya ada pada air bakunya. Kadar kepekatan air tanah di tempat ini mencapai 400 ppm! Padahal belum diberi nutrisi 😱

Solusinya? Mengganti air baku dengan air yang direverse osmosis atau menggunakan tetesan air embun dari AC 😉

Dan tahukah, sahabat2 semua, air RO*-nya saja masih di sekitaran 197 ppm lho. Sedangkan air baku yang disarankan adalah di bawah 100 ppm. Sebegitu padatkah kadar mineral di daerah ini? 😆

Yang penting dicoba, yang penting dievaluasi dan dilakukan kembali dan tetap semangat menanam. Lama2 akan ketemu pola terbaik untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan. Sip? 😉

Selamat menikmati proses2 menuju kebahagiaan panen ya, Bu Dede dan sahabat2 SDIT Taufiqurrahman Bekasi semua 😃👍🌱

Sahabat2 semua ada instalasi hidroponik yang mangkrak dan ingin difungsikan kembali? Semua hanya membutuhkan sedikit sentuhan saja 😉

Mau saya sentuh instalasinya? 😃

Semoga video ini bermanfaat ya. Selamat menikmati 😊

https://youtu.be/2gZoHm-HL98

#rumahhijaunet
#urbanfarming
#hidroponik
#instalasiNFT
#SDITTaufiqurrahman
#Bekasi

(*RO = reverse osmosis, proses pengurangan mineral pada air)





Top Ad 728x90